Shenny Fierdha
24 Oktober 2017•Update: 26 Oktober 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Republik Indonesia hari ini berhasil menangkap sembilan tersangka terorisme dalam operasi penindakan serentak yang dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.
“Ya, betul,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia Brigadir Jenderal Rikwanto saat dihubungi oleh Anadolu Agency untuk dimintai konfirmasi pada Selasa.
Bakri (42), Yoyok Handoko (42), Wawan (42), Beni Samsu Trisno (31), Handoko (umur tidak diketahui), Nanang Kurniawan (umur tidak diketahui), M. Khoirudin (33), Hasby (umur tidak diketahui), dan Hendrasti Wijanarko (32) ditangkap dalam rentang waktu pagi sampai siang ini di provinsi Sulawesi Selatan, Riau, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bakri ditangkap di Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) pada pukul 07.04 WITA akibat dugaan keterlibatannya dalam aksi pelemparan bom terhadap Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada 2012 silam, saat Syahrul tengah memberikan sambutan dalam kegiatan jalan bersama dalam rangka merayakan HUT Golkar Makassar.
Yoyok Handoko ditangkap di sebuah minimarket di Jalan Bukit Barisan Pekanbaru (Riau) pukul 06.00 WIB setelah diduga merencanakan aksi teror di kantor polisi Pekanbaru.
Masih di Riau, TSK bernama Wawan ditangkap di Perumahan Pandau Permai, Kabupaten Kampar, pukul 07.15 WIB. Dia diduga mengetahui adanya pelatihan membuat bom dan pelatihan menembak di Jambi selain pula diduga memimpin baiat di Bukit Gema (Kabupaten Kampar).
Selain itu, Wawan diduga terlibat dalam kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan ia juga diduga memotivasi jaringannya untuk melakukan tindakan amaliyah (terorisme) di kantor polisi.
Beni Samsu Trisno ditangkap di Perumahan Gading Permai (Riau) pada 07.15 WIB dan ia diduga merencanakan aksi teror di kantor polisi Pekanbaru, selain pula diduga mengikuti pelatihan di Jambi dan Bukit Gema (pelatihan masih terkait dengan aktivitas terorisme).
Sementara itu, Handoko ditangkap di Perumahan Griya Taman Anggrek Rambah Jaya (Riau) pada 10.30 WIB dan diduga mengikuti idad (persiapan kekuatan sebelum melawan musuh) di Bukit Gema, mengikuti pelatihan menembak di Jambi dan berencana melakukan amaliyah di kantor polisi Pekanbaru.
Sedangkan, Nanang Kurniawan ditangkap di Jalan Kubang Raya (Riau) pukul 12.30 WIB namun tidak disebutkan dugaan keterlibatan Nanang dalam aksi terorisme.
Sementara itu, M.Khoirudin ditangkap di Jalan Sapen Sukorejo (Jawa Tengah) pada 07.15 WIB dan ia diduga merupakan penyandang dana untuk kelompok Hendro Fernando yang terkait dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pada tahun 2015-2016.
Di tempat berbeda, Hasby ditangkap di Jawa Tengah tepatnya di Jalan Mojolaban Sukoharjo, pukul 11.00 WIB namun tidak disebutkan dugaan keterlibatan Hasby dalam aksi terorisme.
Terakhir ialah Hendrasti Wijanarko yang ditangkap di Jalan Ponorogo-Pacitan di Jawa Timur pukul 11.20 WIB.
Hendrasti diduga membantu menikahkan Nur Solihin dengan Dian Yulia Novi (Nur dan Dian adalah teroris bom panci istana) dan ia diduga satu kelompok dengan teroris Bahrun Naim yang merupakan simpatisan Daulah. Aparat masih mendalami kasus ini dan akan menginterogasi lebih lanjut kesembilan tersangka.