Pizaro Gozali
JAKARTA
Warga Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu memberikan bantuan dana bagi istri pengungsi Rohingya yang berkewarganegaraan Indonesia di Makassar untuk membuka usaha.
Sebanyak 16 keluarga datang bersama dengan suami mereka untuk mengambil bantuan di Sekretariat Forum Peduli Rohingya, Makassar.
Ketua Forum Peduli Rohingya Iqbal Djalil, yang mengkoordinasi bantuan ini, mengatakan santunan tersebut diberikan sebagai modal usaha awal bagi para istri pengungsi Rohingya.
“Ini baru dana awal untuk modal usaha yang akan terus kita kawal,” ujar Iqbal kepada Anadolu Agency pada Minggu malam.
Menurut anggota DPRD Kota Makassar tersebut, bantuan usaha itu sengaja diberikan karena para istri Rohingya itu tidak menjadi tanggungan dari organisasi PBB yang mengurusi masalah pengungsi, yakni UNHCR dan IOM.
“Sebenarnya donasi ini untuk para pengungsi laki-laki langsung, tetapi karena mereka dilarang berwirausaha, maka para istri mereka yang berhak berwirausaha dan mengembangkan sendiri,” ujar Iqbal.
Total bantuan usaha yang dialokasikan mencapai Rp40 juta untuk sekitar 16 istri pengungsi Rohingya.
“Kami akan berikan bantuan berikutnya apabila bantuan awal ini mampu dikembangkan,” ujar Iqbal.
Sejumlah pengungsi Rohingya merasa senang dengan pemberian modal usaha ini.
Rosyid, misalnya, pengungsi Rohingya beristrikan warga asal Parepare itu sudah berencana membuka usaha kecil-kecilan.
“Saya akan jual sayur-sayuran. Sudah ada tempat saya mau sewa, dan semoga bisa. Juga mau jual-jualan lewat online,” tukas Rosyid saat menerima bantuan.
Putri, ibu rumah tangga asal Jeneponto bersuamikan pengungsi Rohingya, juga berjanji mempergunakan dana bantuan itu untuk menjual barang campuran.
Iqbal mengatakan para istri pengungsi Rohingya berasal dari keluarga kurang mampu. Rata-rata warga asli Sulawesi Selatan, dan dari Aceh, Medan, serta Nusa Tenggara Timur.
Mereka tinggal di kosan-kosan dan sama sekali tidak memiliki aktivitas dan penghasilan sendiri, kecuali merawat anak dan menunggu uang dari suaminya yang merupakan bantuan dari PBB sebesar Rp 1.250.000 per bulan.
“Kami berencana menggelar pelatihan wirausaha bulan depan agar mereka memiliki skill wirausaha,” ujar Iqbal.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 656.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Mereka melarikan diri dari operasi keamanan yang membunuh, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.
news_share_descriptionsubscription_contact



