Maria Elisa Hospita
06 Oktober 2018•Update: 07 Oktober 2018
Tugcenur Yilmaz
COX’S BAZAR, Bangladesh
UNESCO mengungkapkan bahwa anak-anak dan remaja di kamp-kamp pengungsi Bangladesh membutuhkan pendidikan.
"Kami khawatir kehilangan generasi muda. Mereka punya kesempatan tak terbatas untuk mendapatkan pendidikan di sini," ujar juru bicara UNESCO di Cox's Bazar, Alastair Lawson Tancre.
Tancred mengatakan lebih dari satu juta orang Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi adalah anak-anak. Sebagian besar dari mereka berusia di bawah 17 tahun.
Menyikapi hal tersebut, UNICEF bertekad memfasilitasi pendidikan anak-anak pengungsi berusia 9-14 tahun.
Kekerasan atas Rohingya
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh militer Myanmar.
Dalam laporan berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkapkan", OIDA mengungkapkan bahwa lebih dari 34.000 orang dibakar hidup-hidup dan 114.000 orang dipukuli.
Tak hanya itu. Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh aparat negara.
Amnesty International menyebutkan bahwa lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya -- khususnya anak-anak dan perempuan -- melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, setelah militer Myanmar melancarkan kekerasan ke kelompok minasaoritas itu.
PBB menyebut Rohingya sebagai kaum paling teraniaya di dunia, yang telah menderita serangkaian serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
PBB juga mencatat berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh tentara Myanmar, termasuk pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan, dan penghilangan paksa. Dalam laporannya, penyidik PBB menyebut pelanggaran itu sebagai kejahatan atas kemanusiaan.