Rıskı Ramadhan
17 Januari 2018•Update: 17 Januari 2018
Enes Kaplan
ANKARA
Turki tidak akan pernah menerima sebuah "pasukan” yang dipimpin oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebuah kelompok yang didominasi oleh teroris PYD/YPG di Suriah, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada Sekretaris Jendral NATO Jens Stoltenberg pada Selasa melalui telepon.
Percakapan telepon tersebut menyusul keputusan Amerika Serikat baru-baru ini untuk membentuk tentara perlindungan perbatasan di Suriah dengan teroris PYD/PKK.
Kepada Stoltenberg, Erdogan mengatakan bahwa dalam menghadapi perkembangan terakhir di Suriah, Turki akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasionalnya.
Erdogan menegaskan, "pembentukan sebuah pasukan", yang diperkirakan akan dipimpin oleh perintah SDF dan dikendalikan oleh organisasi teroris PYD/YPG, tidak akan pernah diterima.
Menekankan bahwa Turki adalah negara yang penting bagi NATO, Stoltenberg mengatakan bahwa masalah pembentukan tentara tersebut tidak dikonsultasikan dengan NATO.
Pada Selasa, Erdogan meminta NATO untuk memenuhi tanggung jawabnya.
"NATO! Anda berkewajiban untuk bersikap menentang orang-orang yang mengganggu batas salah satu mitra Anda," tegas Erdogan.
Sabtu lalu, pasukan keamanan Turki menyerang beberapa target PKK/PYD di Afrin untuk mencegah terbentuknya "koridor teror" di sepanjang perbatasan Turki.
Operasi Afrin dapat mengikuti keberhasilan tujuh bulan Operasi Perisai Eufrat Turki yang berakhir pada bulan Maret 2017.
Koalisi Suriah yang dipimpin AS pada Minggu mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan SDF untuk mendirikan dan melatih pasukan perlindungan perbatasan Suriah.
Turki telah sejak lama memprotes dukungan AS terhadap PKK/PYD yang merupakan cabang Suriah dari organisasi teroris PKK.
Washington mengabaikan kekhawatiran Turki dan menyebut PYD/PKK sebagai "sekutu yang andal" dalam perangnya melawan Daesh di Suriah.
PKK terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa, dan telah menyatakan perang melawan Turki selama lebih dari 30 tahun, hingga menewaskan sekitar 40.000 jiwa.