Selen Temizer dan Mohamad Misto
19 Desember 2017•Update: 20 Desember 2017
Selen Temizer dan Mohamad Misto
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Kerim, bocah Suriah di Ghouta Timur, yang kehilangan ibu dan sebelah matanya saat berusia satu bulan menjadi simbol kampanye untuk mengakhiri blokade.
Anggota White Helmets dan sejumlah aktivis berbagi pesan solidaritas untuk Kerim dengan menutup mata kiri mereka.
Bahkan anak-anak dan orang dewasa ikut bereaksi dengan menutup mata kiri mereka.
Dukungan sama juga datang dari Turki. Pengguna media sosial Turki mulai membagikan pesan berisi, “Bayi kerim, aku melihatmu. Akhiri Pengepungan Ghouta Timur”.
Dukungan terhadap Kerim meluas setelah video Anadolu Agency terkait penderitaanya bersama keluarga viral di Twitter.
Kepada Anadolu Agency, Ayah Kerim Abu Muhammad mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menafkahi kelima anaknya.
Kerim bersaudara sudah kelaparan selama 24 jam dan hanya bisa memakan roti.
Kerim kehilangan ibunya di Ghouta Timur yang dikepung militer rezim ketika dia berumur satu bulan.
Kerim kehilangan mata kirinya saat berada dalam pelukan ibunya dan tiba-tiba mendapatkan serangan meriam.
Satu bulan terakhir, Kerim bertahan hidup dengan luka parah di sisi kiri kepalanya dan patah tulang yang serius di kepala.
Saudara laki-laki dan perempuan Kerim yang juga masih berusia anak-anak mencoba menjadi “ibu” baginya.
Lima tahun terakhir, 400 ribu warga di timur Damaskus itu hidup di bawah pengepungan militer.
April lalu, makanan masih bisa dipasok ke Ghouta timur melalui jalan ilegal, terowongan tersembunyi dan pedagang.
Setelah itu, memasok makanan dan obat-obatan ke Ghouta Timur menjadi tidak mungkin setelah rezim dan kelompok teroris asing pendukungnya memperketat blokade.
Keadaan ini semakin mempersulit kehidupan sehari-hari di Ghouta Timur. Ghouta Timur masuk sebagai "zona de-eskalasi" dalam perjanjian Astana.
Rusia sebagai penjamin rezim menyatakan gencatan senjata mulai berlaku pada 22 Juli lalu, namun serangan rezim masih terus berlanjut tanpa henti.