Pizaro Gozali İdrus
20 Juli 2018•Update: 21 Juli 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan keterlibatan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Indonesia untuk membunuh Mahathir Mohamad dan sejumlah pejabat Malaysia kemunkinan berasal dari instruksi pimpinannya di Indonesia.
“Instruksinya dari JAD di Surabaya. Mereka baru berangkat ke Malaysia,” ujar Al Chaidar kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon, Jumat.
Surabaya, Jawa Timur, adalah kota di mana Zainal Anshori, pimpinan JAD selain Aman Abdurrahman, ditahan. Pengadilan menjatuhi Anshori tujuh tahun penjara pada Maret 2018 atas keterlibatannya menyelundupkan senjata dari Filipina selatan.
Kelompok JAD di Indonesia, kata Al Chaidar, pergi ke Malaysia untuk melakukan baiat serangan.
Para pejabat Malaysia dipilih karena mereka masuk dalam apa yang disebut target keempat dalam hierarki sasaran kelompok teror Daesh.
Target pertama adalah thaghut, kedua kafirun, ketiga musyrikun, dan keempat zalimun.
“Zalimun itu pemimpin atau elit yang tidak menggunakan hukum Islam,” jelas dosen Universitas Malikusssaleh, Aceh ini.
Al Chaidar mengatakan Daesh tak menganggap Malaysia sebagai negeri Islam meski negeri jiran tersebut selama ini akomodatif terhadap Islam. Mahatir pun menjadi sasaran bukan karena pribadinya, melainkan posisi strukturalnya sebagai Perdana Menteri Malaysia.
“Daesh ini ekslusif dan menganggap dirinya paling benar,” ujar Al Chaidar yang menekankan bahwa kelompok Daesh juga eksis di Malaysia.
“Kalaupun Nazib Razak [yang masih menjadi perdana menteri] akan sama,” ujar peneliti yang sempat bertemu dengan Doktor Azahari bin Husin, warga Malaysia yang diduga kuat merupakan otak di belakang Bom Bali 2002 dan Bom Bali 2005.
Al Chaidar mengatakan doktrin Daesh akan lebih mudah diserap mereka yang hidup tanpa pekerjaan, sebagaimana terjadi pada salah satu WNI yang ditangkap di Malaysia dalam kasus ini.
“Karena dia penuh dengan kemurkaan dan kekecewaan,” kata Al Chaidar.
Terkait keterlibatan Negara Islam Indonesia (NII), Al Chaidar mengatakan organisasi itu memiliki irisan pemikiran dengan Daesh. Ini, kata dia, memungkinkan keduanya bersinergi.
“Mereka sama-sama ingin tegakkan daulah [negara],” kata pria yang pernah aktif di NII ini.
Sebelumnya, kepolisian Malaysia menangkap tujuh orang yang diduga terlibat dengan kelompok teror. Menurut otoritas setempat, ketujuh orang tersebut berencana membunuh Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan Raja Sultan Muhammad V.
Dari ketujuh orang itu, tiga di antaranya disebut-sebut merupakan WNI Indonesia. Salah satu dari mereka diketahui berumur 42 tahun dan bekerja sebagai operator di sebuah pabrik yang mengaku jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
JAD adalah kelompok simpatisan Daesh yang diprakarsai Aman Abdurrahman pada 2015.
Sementara itu, tersangka lainnya berusia 26 tahun dan diduga berkaitan dengan Negara Islam Indonesia (NII). Sementara tersangka terakhir merupakan pekerja kontrak berumur 27 tahun yang diduga terlibat dengan Daesh.