09 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengajak umat Islam memperkuat peranan serta implementasi dari Pancasila.
Jimly mengatakan, saat ini Amerika Serikat memiliki pengaruh global yang besar dan Eropa seakan bagian dari provinsinya. Sehingga AS terlihat seperti khilafah secara fungsional dengan pengaruhnya yang luas.
“Indonesia juga bisa memiliki pengaruh luas apabila memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan politik yang stabil. Mari bersama kita bangun khilafah berdasarkan Pancasila dan memperluas pengaruh Indonesia secara global, bukan malah mendirikan khilafah di Indonesia,” tegasnya, hari ini di Jakarta.
Menurutnya, tidak ada tempat bagi pendirian khilafah di Indonesia karena ideologi Pancasila sudah merupakan kesepakatan final dengan bentuk negara kesatuan. Meskipun tidak semua pihak puas, hal tersebut harus dihormati dan ditaati.
Pada masa sepeninggal Nabi Muhammad, Jimly mengatakan, Abu Bakar yang ditunjuk sebagai khalifatur rusul atau yang melanjutkan perjuangan Nabi. Meskipun mayoritas umat menghendaki Ali sebagai penerus, namun Abu Bakar yang ditunjuk. Hal ini karena Ali merupakan keluarga Nabi sehingga dikhwatirkan Islam akan menjadi seperti sistem kerajaan.
Nabi juga tidak mengatur secara khusus teknis penggantian kepemimpinan sepeninggalnya. Meski sempat berdiri beberapa dinasti khilafah Islam, pada abad ke 15 mulai terjadi perpecahan karena wilayahnya yang terlampau luas, hingga kemudian berdirilah negara bangsa.
“Berdirinya negara bangsa merupakan sunatullah dan keniscayaan, termasuk juga berdirinya Indonesia.”
Oleh karena itu, meskipun kebebasan berpendapat diatur dalam undang-undang, Jimly mengharapkan tidak dilakukan pengorganisasian massa untuk mendirikan khilafah di Indonesia karena bisa berpotensi menimbulkan permusuhan.
“Jadi tidak bisa mendirikan khilafah sama seperti mendirikan organisasi komunisme ataupun organisasi anti tuhan di Indonesia.”