Shenny Fierdha
MALANG, Jawa Timur
Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB ketika Anadolu Agency tiba di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin.
Komplek rusunawa itu didirikan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo pada 2013. Empat gedung hunian di dalamnya masing-masing memiliki lima lantai. Di dalam 24 kamar yang berjajar di tiap lantainya, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang tengah, dan satu dapur sempit. Total, setidaknya ada 400 kepala keluarga yang tinggal di rusunawa tersebut.
Pada malam 13 Mei 2018, beberapa ledakan kencang mengguncang salah satu kamar penyewa. Asalnya, sebut polisi belakangan, dari gedung blok B lantai lima, kamar nomor dua.
Para penghuni berlarian keluar gedung, sembari berpikir bahwa kompor milik keluarga Anton yang menghuni kamar itu meledak.
"Kita sempat berpikir bahwa itu ledakan kompor. Sebelum polisi datang, ada sejumlah warga yang naik dan mendatangi kamar. Saat kita lihat, ada banyak kabel," terang Siska, 28 tahun, yang kamarnya bersebelahan persis dengan kamar keluarga Anton.
Setelah tim Gegana datang dan mensterilkan rusunawa, barulah para penghuni menyadari bahwa itu adalah ledakan bom. Istri dan satu anak Anton tewas karena ledakan itu, sementara Anton sendiri selamat dari ledakan namun ditembak mati oleh polisi.
Polisi mendapati Anton sedang memegang alat pemicu bom ketika memasuki kamar.
"Si Ibu [istri Anton] sehari-harinya berjualan kue, jadi kita tidak berpikir bahwa dia begitu [terlibat terorisme]," ucap Siska.
Siska sendiri mengaku jarang bertemu dengan Anton maupun istrinya karena harus bekerja sejak pagi sampai selepas Magrib. Anton juga tak pernah menyapa meski berpapasan dengannya.
"Kalau dengan suami saya, dia [Anton] mau menyapa. Tapi kalau dengan saya, dia langsung buang muka. Yang jelas tetangga sebelah itu sangat tertutup," ujar Siska.
Baik Siska maupun Kepala Rusunawa Wonocolo Madian, 50 tahun, mengaku tidak curiga terhadap Anton sekeluarga. Mereka hanya menilai bahwa keluarga itu memang tertutup, tidak lebih.
Madian berkata, keluarga Anton tinggal di rusunawa itu sudah 3,5 tahun. "Selama mereka tinggal di sini pun tidak ada yang mencurigakan.”
Kontras kanan kiri
Kamar rusunawa keluarga Anton itu hingga kini masih porak-poranda.
"Tadi siang kami baru melepas pita garis polisi dari TKP. Tapi bagian dalam kamar belum dibersihkan," ujar Kepala Kepolisian Sektor Taman Komisaris Samirin seraya membukakan pintu kamar.
Bau apak menyeruak. Debu, tanah, dan genangan darah beku yang masih merah mewarnai lantai ruang tengah yang berkeramik putih. Di ruang tengah, beberapa potong jas hujan, lipatan-lipatan kardus, sebuah dompet kulit hitam kosong, bantal, dan sejumlah barang lain berserakan.
Tak hanya mengotori lantai, darah pun terciprat ke tembok dan pintu kamar utama yang berwarna putih.
Kamar utama kondisinya lebih mengenaskan. Noda darah pekat yang mulai mencoklat tampak di salah satu sisi kasur. Seprainya yang ungu tersingkap setengah, juga ternoda darah.
Sebagian besar langit-langit kamar roboh dan puingnya berserakan di atas kasur. Seluruh kaca jendela pecah, menyisakan rangka jendela yang bolong menganga. Angin berembus kencang dari luar.
Bantal, guling, selimut, bangku plastik, kipas angin, dan beberapa untai kabel hitam yang terpencar tak beraturan di atas kasur dan lantai.
Bom yang menewaskan itu meledak di sebelah kanan ruangan. Di seberangnya, sebelah kiri ruangan, keadaan tak buruk-buruk amat.
Dapur dan kamar mandi tampak baru dipakai, dilihat dari tumpukan cucian baju dan piring kotor yang masih ada di sana. Bahkan, di atas salah satu piring masih ada bekas mi instan goreng yang belum tandas dimakan.
Dari tengah-tengah ruangan 5x4 meter ini, terlihat kontras yang begitu mengena. Di sebelah kanan, ledakan bom menghancurkan segalanya. Sementara di sebelah kiri, seolah mengingatkan bahwa mereka yang terlibat terorisme juga masih menjalani rutinitas hidup layaknya orang biasa.
Sudah aman, tapi diperketat
Dua bulan setelah insiden ledakan itu, warga Rusunawa Wonocolo sudah berkegiatan seperti biasa. Baik Siska maupun Madian sama-sama menilai bahwa situasi sudah aman di lingkungan mereka.
Menurut mereka, tidak ada perubahan terhadap interaksi warga. Tidak ada warga yang saling mencurigai satu sama lain.
Namun Samirin menegaskan bahwa keamanan di rusunawa kini diperketat.
"Yang mau menyewa kamar di sini harus menyertakan Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Surat Keterangan Catatan Kepolisian, dan surat pengantar dari RT setempat. Bahkan pengantar barang dilarang masuk," jelas Samirin.
Dia menerangkan bahwa setiap paket ataupun barang lainnya yang dikirimkan ke rusunawa harus disimpan di pos penjagaan depan rusunawa sehingga warga harus mengambil sendiri barangnya di sana.
"Teman atau kerabat yang mau berkunjung ke rumah penghuni rusunawa pun harus meninggalkan Kartu Tanda Penduduk mereka di pos penjagaan itu," tutup Samirin.
Untuk urusan terorisme, bahkan tindakan keamanan terkecil sekalipun tak boleh diremehkan.
news_share_descriptionsubscription_contact

