Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengumumkan Indonesia melanjutkan catatan surplus neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan keempat 2017 dengan defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali.
Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan mengatakan, surplus NPI tercatat USD1 miliar yang ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus cukup besar, terutama bersumber dari investasi langsung dan investasi portofolio.
“Sementara itu, defisit transaksi berjalan tetap terkendali dalam batas yang aman,” ujar Junanto.
Dengan perkembangan tersebut, Junanto menambahkan posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2017 meningkat menjadi USD130,2 miliar, tertinggi dalam sejarah.
Sementara pada Januari cadangan devisa meningkat menjadi USD131,98 miliar.
Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,3 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Surplus transaksi modal dan finansial, menurut dia, ditopang oleh optimisme terhadap prospek ekonomi domestik dan menariknya imbal hasil keuangan domestik.
Transaksi modal dan finansial juga surplus
Selain itu, surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan keempat 2017 tercatat sebesar USD6,5 miliar terutama bersumber dari surplus investasi langsung dan investasi portofolio.
“Namun, surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada triwulan sebelumnya,” ungkap Junanto.
Lebih rendahnya surplus pada triwulan keempat 2017, menurut Junanto, disebabkan menurunnya surplus investasi langsung, seiring dengan outflow investasi langsung di sektor migas.
Kemudian juga disebabkan oleh menurunnya surplus investasi portofolio sebagai dampak keluarnya dana asing dari instrumen surat berharga berdenominasi rupiah.
“Hal tersebut sehubungan dengan adanya ketidakpastian dari sektor eksternal pada awal triwulan IV 2017,” urai Junanto.
Surplus besar NPI sepanjang tahun
Untuk keseluruhan tahun, NPI 2017 ujar Junanto, mencatat surplus yang relatif besar sebesar USD11,6 miliar
Defisit transaksi berjalan juga terus membaik dan terkendali di bawah 2 persen dari PDB.
Surplus tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio.
“Semua ini sejalan dengan membaiknya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik,” imbuh Junanto.
Defisit transaksi berjalan masih terkendali
Junanto juga menjelaskan, defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman meski mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya.
Defisit transaksi berjalan triwulan keempat 2017 tercatat sebesar USD5,8 miliar atau 2,2 persen dari PDB.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar USD4,6 miliar atau 1,7 persen dari PDB.
Peningkatan defisit tersebut, menurut dia, disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang yang disertai peningkatan defisit neraca jasa.
Junanto menjelaskan lebih rendahnya surplus neraca perdagangan barang bersumber dari kenaikan impor, seiring menguatnya kebutuhan domestik untuk investasi dan kegiatan produksi, yang melampaui kenaikan ekspor.
Sementara itu, ujar Junanto, kenaikan defisit neraca jasa terutama disebabkan oleh meningkatnya defisit jasa transportasi sejalan dengan kenaikan impor barang.
Kemudia, defisit transaksi berjalan sepanjang tahun 2017 tercatat sebesar USD17,3 miliar atau 1,7 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang sebesar 1,8 persen dari PDB.
“Perbaikan defisit transaksi berjalan bersumber dari peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah meningkatnya impor migas,” jelas dia.
Perbaikan defisit transaksi berjalan menurut dia terjadi meskipun Indonesia masih mengalami defisit neraca jasa terkait defisit jasa transportasi dan neraca pendapatan primer terutama untuk pembayaran repatriasi hasil investasi asing.
Keseimbangan perekonomian terpelihara
Perkembangan NPI pada 2017, menurut Bank Indonesia, secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi.
Bank Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya yang dapat memberikan risiko bagi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.
Perkembangan yang menjadi perhatian menurut Junanto, antara lain terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju, tekanan geopolitik di beberapa kawasan, dan kenaikan harga minyak dunia.
“Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial,” ujar dia.
Selain itu juga karena adanya penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.
news_share_descriptionsubscription_contact

