Erric Permana,İqbal Musyaffa
16 Oktober 2018•Update: 16 Oktober 2018
Erric Permana
JAKARTA
Presiden Joko Widodo meminta menteri terkait untuk terus menekan impor dan meningkatkan ekspor menyusul neraca perdagangan Indonesia September surplus sekitar Rp3 triliun.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus dengan USD230 juta pada bulan lalu.
Menurut BPS, surplus tersebut disebabkan ekspor Indonesia pada September tercatat sebesar USD14,83 miliar lebih besar dari impor USD14,60 miliar.
Neraca perdagangan pada bulan September jauh lebih baik dari bulan Agustus yang saat itu mengalami defisit hingga USD1,02 miliar atau sekitar Rp15 triliun, kata BPS.
Presiden Joko Widodo menganggap surplus neraca perdagangan September menunjukkan kinerja perekonomian Indonesia mulai membaik.
Itu sebabnya, dia meminta kepada para menteri terkait untuk terus melakukan pemantauan agar neraca perdagangan mengalami surplus secara terus menerus di sisa tahun ini.
“(Saya minta) dipantau terus menerus (kinerja perdagangan),” ungkap Presiden.
Dia juga mengingatkan menterinya agar bekerja lebih rinci dalam menangani ekspor dan impor di sektor migas dan non migas.
Beberapa kebijakan telah dikeluarkan pemerintah untuk mengendalikan impor guna menekan defisit neraca perdagangan antara lain dengan mengeluarkan peraturan menteri keuangan (PMK) tentang tarif PPh pasal 22 untuk impor 1.147 komoditas barang konsumsi dengan tarif antara 7,5 persen hingga 10 persen.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong implementasi penggunaan 20 persen CPO untuk setiap liter bahan bakar solar dalam program B20 untuk menekan impor solar.
Namun, pelaksanaan kebijakan B20 saat ini masih menemui banyak kendala di lapangan.
Presiden juga mengakui adanya hambatan tersebut khususnya dalam hal pasokan CPO berbentuk Fatty Acid Methyl Esters (Fame) untuk dicampur dengan solar.
"Saya nanti minta laporan mengenai hal ini untuk kepastian eksekusinya di lapangan,” ungkap Presiden.