25 Juli 2017•Update: 25 Juli 2017
Megiza
JAKARTA
Puluhan pebisnis dari sektor pertanian, manufaktur dan keuangan Indonesia mulai melirik potensi kerjasama dengan Afrika Selatan. Menteri Perdagangan Enggatiasto Lukita mengaku kerjasama tersebut sangat mungkin terjadi mengingat saat ini pertumbuhan ekonomi di Afrika Selatan sedang meningkat.
Dalam Forum Bisnis Indonesia-Afsel yang diselenggarakan oleh Departemen Perdagangan dan Industri Afrika Selatan, Kedutaan Besar RI di Pretoria dan juga Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di Johannesburg, Mendag meyakinkan pebisnis Afsel soal posisi ekonomi Indonesia.
“Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Afsel untuk bekerja sama dengan para pelaku bisnis Indonesia, baik dari usaha kecil, menengah dan besar. Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu ekonomi yang paling dinamis pada G20,” ujar Enggar, dalam keterangan resminya.
Delegasi bisnis dari sektor pertanian kopi, kelapa, kelapa sawit; manufaktur ban mobil, bumbu dan bahan makanan, kertas rokok, kertas tulis, produk tekstil, alas kaki, atap dan bahan bangunan, konstruksi dan juga keuangan, yang ikut dalam forum tersebut, dikatakan Enggar, ingin menggali lebih dalam tentang potensi ekonomi Afsel secara langsung.
“Para pengusaha tertarik datang ke Afsel di tengah-tengah pertanyaan mengenai isu pertumbuhan penduduk yang tinggi dan globalisasi Afrika untuk membangun kolaborasi bisnis jangka panjang,” katanya.
Selain membuka kemungkinan kolaborasi, Mendag juga meminta dukungan Afsel atas proposal dan negosiasi Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan lima negara yang tergabung dalam Southern African Custom Union (SACU). Lima negara tersebut di antaranya Botswana, Lesotho, Namibia, Afrika Selatan dan Swaziland.
“Afsel merupakan negara yang memiliki posisis strategis di SACU. Afsel juga memegang peranan utama di kawasan Afrika. Sementara Indonesia memiliki posisi strategis di kawasan Asia Tenggara,” jelas Mendag.