Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan pada bulan Juni setelah terakhir kali mencatat surplus pada Maret lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin merilis neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD1,74 miliar pada bulan Juni, setelah mencatatkan jumlah ekspor sebesar USD13 miliar yang lebih besar dari impor sebesar USD11,26 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan nilai ekspor Indonesia pada Juni lebih rendah 19,8 persen bila dibandingkan total ekspor di bulan Mei. Namun, bila dibandingkan dengan Juni tahun lalu, kinerja ekspor Indonesia meningkat 11,47 persen.
“Penurunan nilai ekspor secara month to month wajar sebagai siklus tahunan setelah lebaran,” ungkap dia.
Lebih lanjut, dia menjelaskan nilai ekspor nonmigas pada Juni mencapai USD11,28 miliar, lebih kecil 22,57 persen bila dibandingkan pencapaian di bulan Mei. Namun, secara year to year, ekspor nonmigas tumbuh 8,61 persen.
“Penurunan terbesar ekspor nonmigas Juni 2018 terhadap Mei 2018 terjadi pada kendaraan dan bagiannya sebesar USD241,1 juta [36,21 persen], sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD119,0 juta [6,11 persen],” urai Suhariyanto.
Kemudian bila dilihat secara sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Juni 2018 naik 5,35 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 36,16 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 7,68 persen.
Ekspor nonmigas Indonesia pada Juni 2018 terbesar adalah ke Tiongkok sebesar USD2,05 miliar, kemudian Jepang USD1,23 miliar dan Amerika Serikat USD1,13 miliar, dengan kontribusi ekspor ketiga negara tersebut mencapai 39,16 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,17 miliar.
Suhariyanto menambahkan, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia selama Januari hingga Juni 2018 mencapai USD88,02 miliar atau tumbuh 10,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD79,38 miliar atau meningkat 9,66 persen.
Sementara untuk nilai impor Indonesia pada Juni, menurut Suhariyanto, mencapai USD11,26 miliar atau turun 36,27 persen dibanding Mei 2018, namun meningkat 12,66 persen secara year on year.
Impor nonmigas pada Juni berdasarkan data BPS mencapai USD9,14 miliar atau turun 38,23 persen dibanding Mei 2018. Dan bila dibanding Juni tahun lalu tumbuh 8,95 persen.
Pada Juni 2018, impor migas mencapai USD2,12 miliar atau turun 26,11 persen dibanding Mei 2018, sebaliknya meningkat 32,09 persen secara year on year.
Penurunan impor nonmigas terbesar Juni 2018 dibanding Mei 2018, ungkap Suhariyanto, terjadi pada golongan mesin dan pesawat mekanik USD989,8 juta (39,21 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada golongan perhiasan/permata sebesar US$91,9 juta (37,76 persen).
Impor nonmigas Indonesia selama Januari-Juni lebih banyak dipasok oleh tiga negara yaituTiongkok dengan nilai USD20,57 miliar (27,43 persen), Jepang USD8,63 miliar (11,51 persen), dan Thailand USD5,32 miliar (7,10 persen). Kemudian untuk impor nonmigas dari ASEAN sebesar 20,66 persen, dan dari Uni Eropa 9,20 persen.
Selanjutnya, untuk nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Juni 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 21,64 persen, 21,54 persen, dan 31,84 persen.