Muhammad Latief
11 September 2017•Update: 12 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 harus dicapai dengan usaha yang keras.
Bukan hanya pemerintah, sektor swasta juga harus bahu-membahu menciptakan situasi yang kondusif bagi perekonomian nasional, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Senin.
“Tantangan paling penting adalah di tingkat konsumsi masyarakat, bagaimana menjaga tetap di atas 5 [persen]. Setidaknya 5,1 persen,” kata Menteri Ani, sapaan akrabnya.
Selain tingkat konsumsi masyarakat, target yang harus dipenuhi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan adalah dengan menjaga nilai investasi tumbuh di angka 6,3 persen. Dana investasi, sebut Menteri Ani, bisa berasal dari pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pasar keuangan (capital market), maupun investasi asing.
Di sisi perbankan, lanjut Menteri Ani, pertumbuhan kredit juga harus dikuatkan dengan angka paling tidak mencapai Rp 483 triliun. Target capex (belanja modal) di titik Rp 523 triliun, sementara capital market diharapkan menyumbang Rp 855 triliun.
Selain stimulus perbankan, capital market, dan capex BUMN, menurut Menteri Ani, kunci untuk pertumbuhan ekonomi adalah “kepercayaan diri korporasi untuk melakukan ekspansi”.
Kepercayaan diri korporasi inilah yang beberapa waktu lalu disebut-sebut Presiden Joko Widodo. Alih-alih terus wait and see, Presiden dalam beberapa kesempatan meminta supaya pengusaha swasta mempersiapkan diri untuk ekspansi usaha atau menanamkan investasinya di Indonesia.
“Titik [target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen] itu dilalui dengan effort yang kuat dari pemerintah dan pihak swasta,” sebut Menteri Ani.
Dalam rapat kerja tersebut, anggota Komisi XI DPR mengingatkan pemerintah untuk mengeluarkan semua upaya agar target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2018 ini tercapai. DPR tidak ingin kegagalan tahun ini terulang. Dari target yang ditetapkan tahun lalu sebesar 5,2 persen, hingga tahun ini hampir berakhir pemerintah memproyeksikan hanya mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17 persen.
“Kalau 5,4 persen itu terlalu optimis untuk keadaan sekarang ini,” ujar salah satu anggota Komisi XI DPR, Kardaya Warnika. “Walaupun kami [juga] ingin pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin, tentu ini harus dilihat secara realistis.”