Muhammad Latief
11 September 2017•Update: 11 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah dan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengesahkan asumsi dasar dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018.
Asumsi-asumsi yang disepakati antara lain pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, inflasi 3,5 persen, nilai tukar rupiah Rp13.400 per dolar AS, dan suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) sebesar 5,2 persen.
Selain itu, tingkat kemiskinan tahun depan dipatok 9,5-10 persen dengan tingkat pengangguran 5-5,3 persen. Rasio gini untuk tahun 2018 ditargetkan sebesar 0,38 dan indeks pembangunan manusia sebesar 71,5 persen.
Anggota Komisi XI Kardaya Warnika mengatakan, perkiraan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi.
Asumsi ekonomi 2018 ini dibuat dengan mengacu pada progres tahun 2017. Semester I/2017 pertumbuhan ekonomi berada di level 5,01 persen, sementara di Semester II/2017 sebesar 5,2 persen. Maka, ujar Kardaya, “Realistisnya [pertumbuhan ekonomi 2018] itu 5,3 persen.”
Namun, ujarnya, “Jika pemerintah yakin, ya, sudah.”
Dipengaruhi faktor luar negeri
Salah satu asumsi ekonomi yang disetujui pemerintah dengan DPR adalah soal nilai tukar rupiah sebesar Rp13.500 per dolar AS.
Nilai ini sempat menjadi pertanyaan salah satu anggota Komisi XI, Melchias Marcus Mekeng. Mekeng sebelumnya mengkritisi proyeksi BI atas nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 13.400-Rp 13.700 per dolar AS dan menanyakan seberapa besar pengaruh perekonomian global terhadap nilai tukar mata uang Indonesia.
“[Faktor eksternal] pengaruhnya besar, lebih dari 50 persen memengaruhi perekonomian Indonesia,” jawab Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara.
Faktor-faktor tersebut, kata Mirza, antara lain kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS), suku bunga negara-negara Uni Eropa, dan pertumbuhan ekonomi Asia.
Menurut Mirza, Indonesia adalah negara yang memerlukan aliran modal, baik surat utang negara, pasar modal, atau pinjaman korporasi. Karena itu, kenaikan suku bunga di Amerika dan negara-negara Uni Eropa sangat berpengaruh.
Tahun depan, kata Mirza, diperkirakan suku bunga Amerika akan naik dan suku bunga Eropa mulai beranjak dari teritori negatif ke teritori positif.
Tahun ini kurs rupiah tetap stabil karena dolar AS tidak sekuat prediksi awal tahun. Inflasi yang ditargetkan mencapai lebih dari 2 persen ternyata tidak mencapai target. Hal inilah yang membuat Federal Reserve Bank yang biasanya menaikkan suku bunga hingga 3-4 kali dalam setahun, tahun ini hanya menaikkan 2 kali saja.
Hal ini, menurut Mirza, membuat negara-negara emerging market – termasuk Indonesia – berhasil menarik capital inflow.
Menurut Mirza lagi, saat ini perekonomian Indonesia masih sangat tergantung pada stabilitas nilai tukar; jika sedang menguat tidak terlalu tinggi, namun jika sedang jatuh juga tidak terlalu rendah. Rupiah yang terlalu kuat membuat ekspor tertekan, sementara rupiah yang terlalu lemah menyulitkan impor.
Secara umum, BI memproyeksi tahun depan inflasi akan berada pada level 3,3 persen, sementara produk domestik bruto 5,26 persen.
“Kalau kurs rupiah, end of the year berada di level 13.550 per dolar AS.”