Hayati Nupus
11 September 2017•Update: 13 September 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Sebagian besar wilayah Indonesia tengah mengalami puncak musim kemarau pada September ini. Di antaranya adalah Jawa dan Nusa Tenggara.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 2.726 desa/kelurahan yang mengalami kekeringan di Jawa dan Nusa Tenggara. Desa-desa itu tersebar di 715 kecamatan atau 105 kabupaten/kota.
“Sekitar 3,9 juta masyarakat terdampak kekeringan, sehingga memerlukan bantuan air bersih. Kekeringan juga menyebabkan 56.334 hektare lahan pertanian kesulitan air, sehingga 18.516 hektare lahan pertanian gagal panen,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan hingga Oktober 2017. Kebijakan ini dikeluarkan setelah kekeringan menimpa di 1.254 desa atau di 275 kecamatan dan 30 kabupaten/kota, serta menimpa 1,41 juta jiwa atau 404.212 keluarga. Kekeringan juga melanda sepuluh kecamatan di Kulon Progo, Yogyakarta.
Di Jawa Barat, kekeringan melanda 496 desa dan delapan wilayah menetapkan status siaga darurat kekeringan, yaitu Kabupaten Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Kota Banjar dan Kota Tasikmalaya.
Kekeringan juga melanda 588 desa di Jawa Timur. Di Nusa Tenggara Barat, kekeringan melanda 318 desa dan menimpa 640.048 jiwa. Sementara di Nusa Tenggara Timur, sumber mata air mengering dan sembilan kabupaten kesulitan air.
Sembilan kabupaten darurat kekeringan itu adalah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua.
Sebagian besar wilayah yang mengalami kekeringan merupakan wilayah yang sama dengan tahun lalu.
“Masih tingginya kerusakan lingkungan dan daerah aliran sungai menyebabkan sumber air mongering. Upaya mengatasi kekeringan sudah dilakukan setiap tahun, namun upaya ini belum dapat menuntaskan semuanya,” ujarnya.
Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kekeringan masih terjadi hingga penghujung Oktober 2017. Sedang musim hujan akan datang pada Oktober-November 2017, dan puncaknya terjadi pada Desember 2017-februari 2018.
“Kekeringan akan terjadi sampai akhir Oktober hingga awal November. Setelah itu baru masuk musim penghujan,” ujar Deputi Klimatologi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo, Senin, kepada Anadolu Agency.