Muhammad Iqbal
19 September 2017•Update: 20 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Sering dilaporkan negatif oleh serikat buruh maupun lembaga swadaya masyarakat, industri kelapa sawit di Indonesia berkomitmen memperbaiki kondisi ketenagakerjaannya. Itu dikatakan oleh Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumarjono Saragih, Selasa.
GAPKI, ujar Sumarjono, akan bekerja sama dengan Federasi Serikat Buruh Perkebunan dan Pertanian (Hukatan), Serikat Buruh Belanda (CNF Internasional), serta International Labour Organization (ILO) dalam menyelesaikan beberapa isu penting yang kini dihadapi.
Yang utama, sebut Sumarjono, adalah promosi hak dan kewajiban pekerja yang sesuai dengan regulasi dan prinsip-prinsip universal. "Prioritas berikutnya adalah jangan sampai ada pekerja anak," ujar dia.
Hal penting lainnya, tambahnya, adalah soal promosi dan edukasi aspek keselamatan dan kesehatan pekerja.
Dengan kerja sama dengan tiga lembaga serikat buruh ini, pengusaha dan pekerja industri kelapa sawit akan mengadvokasi buruh dari hal-hal negatif yang bisa mengancam keberlangsungan industri.
Saat ini, menurut Sumarjono, ada sekitar 7,9 juta pekerja di sektor kelapa sawit yang tidak pernah mempromosikan sisi positif sektor ini, padahal merupakan sumber pencaharian mereka.
"Kerja sama ini membuat buruh-pengusaha yang terjebak dalam hubungan industrial saja," kata Sumarjono.
Indonesia adalah produsen
crude palm oil (CPO) – minyak yang terbuat dari kelapa sawit – yang terbesar di
dunia, disusul oleh Malaysia. Selain masalah perburuhan, industri kelapa sawit
juga dibayangi oleh isu lingkungan.
Perkebunan kelapa sawit
biasanya dibangun dari hutan tropis yang dibakar sehingga membahayakan banyak
spesies liar, terutama orangutan yang hampir punah. Beberapa negara menolak
untuk mengimpor produk berbahan CPO karena alasan ini.