Pasar komoditas bergerak fluktuatif dipicu risiko energi dan arah suku bunga
Ketegangan Timur Tengah meningkatkan risiko pasokan energi dan memicu volatilitas pasar
ISTANBUL
Pasar komoditas global pekan ini bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya risiko energi akibat ketegangan Timur Tengah serta perubahan ekspektasi suku bunga bank sentral utama dunia.
Ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah, terutama antara AS-Israel dan Iran, membuat kekhawatiran pasokan energi tetap tinggi dan menjaga persepsi risiko di pasar keuangan global.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan nonpertanian Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan, yang dinilai penting untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Sejumlah pejabat bank sentral AS (The Fed) menyampaikan kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat memperburuk inflasi dan mempersempit ruang penurunan suku bunga.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menilai inflasi saat ini masih menjadi risiko utama, sementara Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson memperingatkan bahwa lonjakan harga energi dapat menekan belanja konsumen dan dunia usaha.
Anggota Dewan Gubernur The Fed Michael Barr juga menilai suku bunga kemungkinan perlu dipertahankan lebih lama di tengah meningkatnya risiko akibat konflik Timur Tengah.
Data makroekonomi AS menunjukkan aktivitas manufaktur meningkat, namun sektor jasa dan tingkat kepercayaan konsumen melemah, mencerminkan kombinasi tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.
Seiring perkembangan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 4,45 persen, sementara indeks dolar menguat.
Di pasar logam mulia, harga bergerak volatil karena pengaruh penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi, meskipun permintaan aset aman masih bertahan.
Harga emas sempat turun tajam namun pulih di akhir pekan dan ditutup relatif stabil di kisaran 4.493 dolar AS per ons. Pergerakan serupa juga terjadi pada perak, sementara platinum dan paladium mencatat penurunan.
Analis menilai pergerakan logam mulia dipengaruhi kombinasi risiko geopolitik, inflasi, dan arah kebijakan suku bunga.
Sementara itu, logam dasar terdampak tekanan biaya akibat kenaikan harga energi. Kenaikan biaya produksi dan distribusi mendorong harga logam seperti tembaga, nikel, aluminium, dan seng.
Di sektor energi, harga minyak Brent mencatat penurunan mingguan meski risiko pasokan tetap tinggi, terutama akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Penurunan terjadi setelah aksi ambil untung dan ekspektasi konflik tidak meluas.
Harga gas alam juga mengalami penurunan, mencerminkan volatilitas pasar energi yang masih tinggi.
Pada komoditas pertanian, pergerakan harga dipengaruhi oleh kebijakan biofuel AS, data ekspor, kondisi cuaca, serta biaya energi.
Harga gandum mengalami kenaikan, sementara kedelai, jagung, dan beras cenderung melemah. Di sisi lain, harga gula dan kapas naik, sedangkan kopi dan kakao mengalami penurunan.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
