07 November 2017•Update: 07 November 2017
YERUSALEM
Otoritas Yordania yang bertanggung jawab atas Masjid al-Aqsa Yerusalem telah mengecam rencana Israel untuk membentuk satuan polisi baru di kompleks al-Aqsa.
Pekan lalu, Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan mengatakan, Israel akan meningkatkan pengamanan di al-Aqsa dengan memasang teknologi mutakhir dan membentuk satuan polisi yang beranggotakan 200 orang.
Lewat pernyataan yang dirilis Senin, Wakaf, yayasan Islam yang mengelola situs suci tersebut, menyebut keputusan Erdan sebagai "deklarasi perang atas 2 juta umat Muslim".
Menurut pemerintah Israel, tindakan pengamanan baru ini merupakan kebijakan atas insiden baku tembak pada Juli, yang menewaskan dua anggota polisi dan tiga penyerang.
Sebelumnya, Israel memasang detektor logam di pintu masuk namun akhirnya mencabutnya setelah warga Palestina menggelar aksi protes selama dua pekan. Israel kemudian bersikeras mencari tindakan pengamanan alternatif.
Bagi umat Muslim, al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Muslim, sementara kaum Yahudi menyebutnya sebagai "Gunung Kuil".
Israel menduduki Yerusalem Timur - di mana al-Aqsa berada - selama Perang Timur Tengah 1967, sebelum akhirnya menguasai seluruh wilayah kota pada 1980, dan secara sepihak mengklaimnya sebagai ibu kota Yahudi.