İqbal Musyaffa
29 Mei 2019•Update: 30 Mei 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia meminta Jepang agar fleksibel dan tidak bertahan pada posisinya saat ini agar perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dapat bergerak maju.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan dalam RCEP, Indonesia berperan sebagai negara koordinator dan meminta dukungan Jepang agar perundingan ini bisa selesai pada tahun ini.
“Kalau masing-masing negara bertahan, RCEP tidak akan membuahkan hasil,” ungkap Enggartiasto, seusai pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko di Jakarta, Rabu.
RCEP merupakan perjanjian regional terbesar di dunia yang melibatkan seluruh negara ASEAN ditambah India, China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
Menurut Enggar, seluruh negara di dunia menantikan hasil negosiasi RCEP. Saat ini, kata Enggar, RCEP mulai mengarah pada perkembangan positif setelah Jepang melakukan perundingan bilateral yang intensif dengan China serta membuahkan banyak kesepakatan.
“RCEP ini akan sulit kalau tidak tercapai kesepakatan bilateral terlebih dahulu,” tambah dia.
Enggar juga menambahkan China sudah menunjukkan fleksibilitasnya untuk masuk ke dalam kancah perundingan.
“Saya juga telah sampaikan ke Jepang di dalam pertemuan ASEAN lalu di Kamboja, bahwa Sekjen ASEAN akan bertemu India setelah terbentuknya pemerintahan baru India pada Juli nanti untuk membahas hal krusial,” urai Enggar.
Menurut Menteri Enggar, apabila poin-poin krusial yang tertunda pembahasannya dengan India bisa terselesaikan, maka diharapkan pada pertemuan ASEAN 22 Juni nanti pembahasan RCEP akan semakin maju.
“Pada saat putaran perundingan berikutnya di Beijing Agustus nanti, RCEP sudah bisa lebih mengerucut untuk diselesaikan dan kemudian bisa kami laporkan ke kepala negara mengenai hasilnya,” urai dia.
Enggar menegaskan bahwa Indonesia sangat mengharapkan dukungan Jepang agar RCEP bisa diselesaikan sesuai dengan jadwal tersebut.
“Ini akan sangat baik untuk ekonomi dunia karena 50 persen penduduk dunia ada di dalam negara anggota RCEP,” imbuh dia.