Ekonomi

Indonesia jadi negara kehormatan pameran produk ASEAN-China

Indonesia menjadi negara kehormatan dalam pameran China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-16 di Nanning China

Muhammad Nazarudin Latief   | 12.07.2019
Indonesia jadi negara kehormatan pameran produk ASEAN-China Ilustrasi: Bahan baku obat-obatan herbal yang bisa menjadi komoditas ekspor andalan ke China. (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Muhammad Latief

JAKARTA

Indonesia berpeluang menyeimbangkan perdagangan dengan China dengan menjadi Country of Honor pada pameran China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-16 yang akan digelar 20–23 September di Nanning, China.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan mengatakan sebagai country of honor Indonesia diistimewakan karena menjadi fokus perhatian dalam pameran.

“Ini tentu saja mendatangkan kesempatan besar bagi Indonesia,” ujar Marolop dalam siarannya.

“Kita harus gencar promosi ekspor ke China untuk menyeimbangkan hubungan perdagangan Indonesia-China.”

Total perdagangan Indonesia-China pada 2018 tercatat sebesar USD 72,67 miliar atau naik 23,48 persen dari total perdagangan 2017 yang sebesar USD 58,84 miliar.

Defisit perdagangan pada tahun ini mencapai USD18,41 miliar. Sedangkan pada periode Januari-April 2019 telah mencapai USD 22,4 miliar.

Menurut Marolop, kesempatan yang bisa diambil Indonesia adalah mengambil peluang dari perang dagang, karena kedua negara membutuhkan penyuplai baru akibat perang tarif.

Dalam pameran tersebut, Indonesia juga mendapat kesempatan untuk menggelar forum khusus dengan negara lain, seperti forum bisnis (B to B) dengan negara anggota China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) maupun negara lain non-CAFTA.

“Jadi Indonesia akan memiliki kesempatan lebih besar mengeksplorasi kerja sama dengan negara anggota pameran,” ujar Marolop.

Tahun ini merupakan partisipasi ke-16 kalinya bagi Indonesia mengikuti pameran ini.

Tahun lalu partisipasi Indonesia dianggap berhasil karena meningkatkan transaksi hingga 190 persen dari keikutsertaan tahun lalu, yaitu dari USD 2,14 juta menjadi sebesar USD6,2 juta.

Paviliun Indonesia yang berjumlah 79 stan dan diisi 66 pelaku usaha pun ramai dikunjungi sekitar 30.000 orang.

Tahun lalu, Indonesia juga mendapatkan prospek investasi baru dari investor China yang disalurkan melalui kerja sama dengan perusahaan, berupa pembangunan pabrik produk berteknologi tinggi di Bitung.

Menurut Marolop penduduk China yang mencapai 1,4 miliar jiwa adalah peluang bisnis yang sangat besar, karena tidak mungkin pemerintah negara itu memenuhi semua kebutuhan rakyatnya.

Komoditas yang diminati oleh masyarakat China biasanya adalah makanan, minuman dan produk kesehatan.

“Obat gosok hingga obat-obatan herbal itu diminati di China,” ujar dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın