JAKARTA
Kinerja ekspor non migas Indonesia tertekan kondisi perekonomian global sehingga mengalami pelemahan pada periode Januari-Juli tahun ini, ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.
Nilai ekspor tercatat sebesar USD88,1 miliar atau turun 6,6 persen dibanding periode yang sama lalu.
“Ada tekanan harga komoditas utama Indonesia di pasar internasional, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO). Secara umum kondisi global masih menekan kinerja ekspor nonmigas Januari—Juli,” jelas Menteri Enggar dalam siaran persnya, Kamis.
Pelemahan ini juga dipicu berkurangnya ekspor ke 10 besar negara tujuan utama, kecuali Malaysia dan Vietnam yang naik masing-masing sebesar 0,5 persen dan 20 persen.
Ekspor pada Juli sebenarnya mengalami kenaikan cukup signifikan yaitu 31 persen atau senilai USD15,5 miliar secara bulanan, namun angka itu tidak memberi kontribusi signifikan dalam total ekspor periode tersebut.
“Ekspor naik peningkatan ekspor migas sebesar 115,2 persen (MoM) dan peningkatan ekspor nonmigas sebesar 25,3 persen (MoM),” kata Menteri Enggar.
Menurut Menteri Enggar, ekspor seluruh sektor mengalami pelemahan.
Sektor migas adalah sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu turun 21,8 persen secara tahunan, padahal tahun sebelumnya meningkat 12,4 persen.
Ekspor sektor pertambangan turun 17,1 persen, padahal tahun lalu naik 37,5 persen. Sektor industri turun 4,3 persen, tahun lalu naik 6,9 persen; sektor pertanian turun 0,2 persen (YoY), sementara tahun lalu juga turun 7,5 persen.
-Impor juga turun
Impor Indonesia periode Juli juga turun 15,2 persen atau senilai USD15,5 miliar dibanding tahun lalu. Namun angka ini meningkat 35,0 persen dibanding Juni lalu.
Secara kumulatif, selama Januari—Juli 2019, total impor Indonesia mencapai USD 97,7 miliar, atau mengalami penurunan 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD107,3 miliar.
“Penurunan impor Januari—Juli 2019 dipicu permintaan impor migas yang turun sebesar 24,4 persen dan nonmigas turun 6,2 persen,” ujar Menteri Enggar.
Penurunan impor periode Januari - Juli 2019 disebabkan menurunnya permintaan impor seluruh golongan barang.
Impor barang konsumsi turun sebesar 10,2 persen, impor bahan baku/penolong turun 9,5 persen, dan impor barang modal turun 5,7 persen.
Barang konsumsi yang impornya mengalami penurunan signifikan, antara lain bahan bakar dan pelumas olahan (31,7 persen), makanan dan minuman olahan (24,8 persen), serta alat angkutan bukan untuk industri (21,1 persen).
Sementara itu, neraca perdagangan bulan Juli 2019 tercatat masih mengalami defisit sebesar USD 63,5 juta yang disebabkan defisit neraca perdagangan migas.
Perdagangan nonmigas tercatat sebesar USD 78,9 juta, sedangkan neraca perdagangan migas tercatat sebesar USD 142,4 juta.
Defisit perdagangan ini berasal dari negara mitra dagang seperti China, Thailand, Jepang, Italia, dan Australia sebesar USD2,72 miliar.
Sementara Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Malaysia menjadi negara mitra yang menyumbang surplus nonmigas terbesar pada Juli 2019 dengan jumlah mencapai USD 2,38 miliar.
“Secara kumulatif, defisit selama Januari—Juli 2019 masih cukup besar yakni mencapai USD 1,9 miliar. Defisit tersebut disebabkan besarnya defisit pada neraca perdagangan migas yang mencapai USD 4,9 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus sebesar USD 3,0 miliar,” ujar Menteri Enggar.