Muhammad Nazarudin Latief
15 November 2017•Update: 16 November 2017
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober ini surplus tipis sebesar USD0,90 miliar, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Rabu.
Surplus ini dipicu oleh naiknya pendapatan sektor nonmigas sebesar USD1,69 miliar namun terkoreksi oleh defisit sektor migas sebesar USD 0,79 miliar.
Total impor sendiri mencapai USD11,99 miliar, naik cukup tinggi yaitu 11,04 persen dibanding bulan lalu, bahkan naik 23,33 persen year on year (yoy).
Sedangkan ekspor mencapai USD15,09 miliar, naik 3,62 persen dibanding ekspor September 2017 dan meningkat 18,39 persen yoy.
Secara tahunan, neraca perdagangan masih surplus sebesar USD11,78 miliar, lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya USD7,65 miliar.
“Kalau kita lihat trennya, Desember mendatang impor kita juga akan naik,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.
Tren neraca perdagangan Indonesia saat ini sedang turun surplusnya tiap triwulan. Berurut-turut dari triwulan I/2017 mencapai USD4,09 miliar, pada triwulan II turun menjadi USD3,58 miliar dan pada triwulan III turun lagi menjadi USD3,22 miliar.
Menurut Suhariyanto, salah satu yang membuat surplus tipis adalah impor migas yang mengalami kenaikan sangat signifikan mencapai nilai USD2,20 miliar. Sedangkan impor nonmigas naik hingga mencapai USD11,99 miliar.
Peningkatan impor nonmigas terbesar Oktober berasal dari golongan besi dan baja USD182,9 juta (28,68 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan bahan bakar mineral sebesar USD57,0 juta (52,10 persen).
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2017 adalah Tiongkok dengan nilai USD27,98 miliar (26,12 persen), Jepang USD12,37 miliar (11,55 persen), dan Thailand USD7,64 miliar (7,13 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,50 persen sementara dari Uni Eropa 9,34 persen.