İqbal Musyaffa
24 Juni 2019•Update: 24 Juni 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Nilai impor Indonesia berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan secara bulanan dan juga tahunan.
Berdasarkan data tersebut, impor Indonesia pada bulan Mei sebesar USD14,53 miliar. Nilai ini turun 5,62 persen secara bulanan dan juga turun 17,71 persen dari bulan Mei tahun lalu.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan penurunan impor pada Mei tahun ini karena turunnya impor migas sebesar 6,41 persen dari bulan sebelumnya menjadi USD2,09 miliar begitupun juga impor nonmigas turun 5,48 persen menjadi USD12,44 miliar.
Dia menjelaskan berdasarkan sektor, impor barang konsumsi mengalami peningkatan secara month to month sebesar 5,62 persen menjadi USD1,54 miliar namun angka ini turun 10,86 persen secara year on year.
“Peningkatan impor barang konsumsi secara bulanan karena Mei adalah Ramadan,” jelas Suhariyanto dalam konferesi pers, Senin.
Suhariyanto menjelaskan yang menyebabkan impor barang konsumsi meningkat secara bulanan antara lain bawang putih asal China yang bertujuan untuk menekan harga bawang putih di dalam negeri, kemudian anggur asal Australia, material bangunan serta alat elektronik dan obat-obatan.
Sementara itu, impor bahan baku/penolong mengalami penurunan secara bulanan sebesar 7,82 persen dan juga secara tahunan sebesar 19,13 persen menjadi USD10,66 miliar.
Beberapa komoditas yang mengalami penurunan impor pada sektor ini antara lain handphone tanpa baterai, emas batangan, gula rafinasi, dan kapas.
Selanjutnya, impor barang modal pada Mei sebesar USD2,33 miliar mengalami penurunan sebesar 1,76 persen month to month dan 15,24 persen year on year.
“Impor barang modal juga menunjukkan penurunan dengan turunnya impor truk dan beberapa mesin berat pada Mei bila dibandingkan April,” imbuh Suhariyanto.
Suhariyanto menjelaskan struktur impor pada Mei tidak banyak berubah dengan sebagian besar masih beraasal dari impor bahan baku/penolong dengan porsi 73,38 persen karena dibutuhkan untuk menggerakkan industri dalam negeri.
Berdasarkan golongan barang HS2 digit, peningkatan impor Mei dibanding April terjadi pada sayuran yang utamanya adalah bawang putih sebesar USD69,8 juta, bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD66 juta, dan ampas/sisa industri makanan untuk pakan ternak sebesar USD58,4 juta.
Kemudian golongan barang yang mengalami penurunan impor antara lain mesin dan peralatan listri sebesar USD158,5 juta, besi dan baja sebesar USD109,5 juta, dan mesin/pesawat mekanik sebesar USD85,1 juta.
Bila dilihat berdasarkan negara, terjadi peningkatan impor pada bulan Mei dibandingkan April yang berasal dari Brazil sebesar USD121,5 juta, Kanada USD52,3 juta, dan Argentina USD48,9 juta.
Kemudian penurunan impor terjadi dari negara China sebesar USD323,2 juta, Jepang USD240,1 juta, dan Korea Selatan USD60,1 juta.