Iqbal Musyaffa
22 Januari 2020•Update: 23 Januari 2020
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan penguatan nilai tukar rupiah masih sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan Presiden Joko Widodo juga sangat menjunjung tinggi independensi bank sentral dalam mengelola nilai tukar rupiah saat bediskusi pada pertemuan tahunan OJK minggu lalu.
“Saya laporkan waktu itu penguatan rupiah masih sejalan dengan fundamental, inflasi rendah, pertumbuhan meningkat, dan juga kemudian neraca pembayaran surplus dan aliran modal asing masuk, makanya nilai tukar rupiah menguat,” jelas Perry di Jakarta, Rabu.
Selain itu, Perry mengatakan pengaruh dari nilai tukar di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain karena bisa mendorong investasi dalam negeri.
“Karena banyak industri yang kandungan impornya tinggi, sehingga penguatan rupiah bisa dorong investasi dalam negeri. Penguatan rupiah juga mendorong ekspor khususnya manufaktur,” lanjut dia.
Menurut Perry, ekspor manufaktur selama ini terkendala tingginya bahan baku impor sehingga pada saat rupiah menguat, maka ekspor manufaktur bisa meningkat.
Akan tetapi, Perry mengakui apabila ada pihak yang lebih senang rupiah melemah seperti eksportir komoditas karena lebih diuntungkan dengan hasil rupiah dari ekspor yang lebih tinggi.
“Tapi ekspor komoditas (volumenya) tidak terlalu sensitif terhadap nilai tukar, melainkan lebih sensitif terhadap permintaan luar negeri dan harga komoditas,” jelas Perry.
Oleh karena itu, Perry mengatakan penguatan rupiah masih sejalan dengan fundamental, mekanisme pasar, dan mencerminkan kredibilitas kebijakan pemerintah, BI, OJK, LPS, dan lembaga lainnya.