İqbal Musyaffa
05 September 2019•Update: 06 September 2019
JAKARTA
Uni Eropa menegaskan bahwa tidak pernah meragukan kelebihan kelapa sawit dari sisi produktivitas dalam menghasilkan minyak nabati begitu pun kualitasnya.
Termasuk bila dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti rapeseed, kedelai, dan minyak nabati.
Delegasi resmi Uni Eropa Michael Bucki mengatakan kehebatan kelapa sawit tidak diragukan sebagai sebuah tanaman yang luar biasa.
“Kelapa sawit tanaman luar biasa yang dapat tumbuh dengan sangat cepat dan memproduksi lebih banyak minyak serta membutuhkan lahan yang lebih sedikit sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi,” tegas Bucki dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Berdasarkan hasil kajian dan pernyataan pemerintah Indonesia, kelapa sawit mampu memproduksi 4 ton minyak nabati setiap hektare, sementara, produktivitas bunga matahari hanya 0,6 ton per hektare dan kedelai hanya 0,4 ton per hektare.
Akan tetapi, yang menjadi sorotan Eropa adalah terkait faktor lingkungan karena perkebunan kelapa sawit menyebabkan emisi karbon yang besar di Indonesia.
Padahal, Indonesia sudah berkomitmen mereduksi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan sebesar 70 hingga 90 persen hingga 2030.
Bucki menilai ada kaitan erat antara perkebunan kelapa sawit dengan tingginya deforestasi di Indonesisa selama kurun waktu 2008 hingga 2015.
Bucki mengungkapkan terdapat kaitan antara kelapa sawit dan tingkat deforestasi tinggi selama periode 2000-2015.
“Berdasarkan World Resources Institute, 55 persen hamparan pepohonan dalam hutan primer di Indonesia hilang dengan jumlah 4,5 juta hektare atau lebih luas dari negara Belanda untuk keperluan konsesi,” kata dia.
Dia mengatakan hamparan hutan yang hilang tersebut dikonversi untuk keperluan industri minyak sawit, kertas, dan bubur kertas.
Selain itu, sebanyak 45 persen hamparan hutan di luar wilayah konsesi rusak dengan luas 3,6 juta hektare.
Kerusakan itu sebagian besar dilakukan oleh pemegang lisensi konsesi, tingkat panen yang tidak berkelanjutan, atau jaringan perkebunan kelapa sawit kecil yang beroperasi di luar area konsesi legal untuk masuk ke dalam rantai pasokan di perkebunan kelapa sawit besar pemegang konsesi.