Maria Elisa Hospita
20 April 2019•Update: 20 April 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan komandan Libya Khalifa Haftar membahas "upaya kontraterorisme yang sedang berlangsung" lewat telepon awal pekan ini.
Menurut Gedung Putih pada Jumat, diskusi itu dilakukan di tengah konflik yang memanas di Afrika Utara, setelah pasukan pro-Haftar melancarkan kampanye untuk merebut Tripoli dari Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB.
"Presiden mengakui peran penting komandan Haftar dalam memerangi terorisme dan mengamankan sumber daya minyak Libya. Keduanya juga membahas visi bersama untuk transisi Libya ke sistem politik yang stabil dan demokratis," ungkap Gedung Putih.
Sementara itu, PBB mengkhawatirkan bahwa konflik itu akan memicu krisis migrasi lain.
Pertempuran yang terjadi di sekitar dan di Tripoli telah menewaskan banyak orang.
Libya masih dilanda gejolak sejak mendiang Presiden Muammar Gaddafi digulingkan dalam pemberontakan yang didukung NATO pada 2011.
Sejak itu, dua kursi kekuasaan yang saling bersaing pun munculsatu di Libya timur, markas Haftar, dan satu lagi di Tripoli, markas pemerintah yang diakui PBB.