Maria Elisa Hospita
11 Juli 2018•Update: 12 Juli 2018
Alex Jensen
SEOUL
Seorang juru bicara pemerintah Korea Selatan pada Rabu menegaskan bahwa puluhan karyawan restoran Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan pada tahun 2016 melakukannya "berdasarkan keinginan mereka sendiri".
Kasus ini menarik perhatian global pada saat itu karena Utara menuduh Selatan menculik kelompok itu, yang diketahui telah bertolak dari Tiongkok pada April 2016.
Korea Selatan telah secara resmi menyambut ribuan pembelot yang berusaha melarikan diri dari rezim otoriter Pyongyang, namun staf restoran itu adalah warga negara yang setia yang diizinkan untuk bekerja di luar negeri.
"Yang saya tahu mereka datang ke sini atas keinginan mereka sendiri. Saya tidak punya penjelasan lainnya mengenai hal itu," tegas juru bicara Kementerian Unifikasi Baik Tae-hyun seperti dilansir oleh kantor berita Yonhap.
Sehari sebelumnya, pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di Korea Utara mendesak penyelidikan independen, setelah berbicara dengan beberapa pembelot yang bersangkutan.
"Jelas bahwa ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan. Beberapa dari mereka mengungkapkan bahwa mereka dibawa [ke Korea Selatan] tanpa mengetahui tujuan mereka," tutur Tomas Ojea Quintana kepada Yonhap.
Selain itu, mantan manajer restoran para pembelot itu sempat melibatkan badan intelijen Seoul ketika dia mengatakan kepada media pada Mei bahwa dia telah menipu stafnya saat membawa mereka ke Selatan.
Saat ini, kejaksaan Korea Selatan sedang menyelidiki kasus tersebut, yang perkembangannya sangat dirahasiakan untuk melindungi identitas para pembelot, mengingat bahwa Korea Utara seringkali diduga menganiaya keluarga dari warganya yang melarikan diri.