Rıskı Ramadhan
20 Maret 2018•Update: 21 Maret 2018
Mohamad Misto
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Serangan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pendukungnya ke daerah Ghouta Timur yang berada dalam blokade pada Senin dilaporkan masih terus berlanjut.
Menurut pejabat Pertahanan Sipil (White Helmets) di Ghouta Timur, sebuah helikopter militer milik rezim membombardir wilayah penduduk di distrik Duma.
Serangan tersebut menewaskan tujuh orang, termasuk seorang anak-anak.
Menurut Pertahanan Sipil, rezim dan Rusia juga menggunakan sejumlah bom fosfor dalam serangan terhadap daerah Duma yang berlangsung sepanjang hari.
Serangan rezim dan Rusia ke daerah Ayn Terma, Haresta and Arbin di Ghouta Timur pada Senin menewaskan 12 orang.
Rezim Assad pada Minggu malam juga meluncurkan serangan gas klorin ke distrik Duma.
Serangan rezim dan Rusia terhadap kawasan tersebut selama dua hari terakhir telah menewaskan 13 warga sipil di Duma, 7 di Ayn Terma, 4 di Haresta dan 1 di Arbin.
Pada 24 Februari, PBB mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah - terutama Ghouta Timur - untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.
Tiga hari kemudian, Rusia mengumumkan gencatan senjata yang menyerukan "jeda kemanusiaan" selama lima jam setiap harinya di daerah tersebut.
Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Suriah sebelumnya menyatakan bahwa rezim Assad telah melakukan serangkaian kejahatan perang seperti menghalangi evakuasi medis, membuat rakyat kelaparan dan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta Timur.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir.
Meski Ghouta Timur telah ditetapkan sebagai zona de-eskalasi dalam kesepakatan Astana, Rezim Assad semakin memperketat blokade kawasan tersebut sejak April tahun lalu.
Rezim juga telah mengintensifkan serangan dalam beberapa bulan terakhir.
Ribuan pasien termasuk anak-anak yang sebagian besarnya menderita kanker menunggu untuk segera dievakuasi dari daerah yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan tersebut.
Sejumlah bayi, anak-anak dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan gizi yang cukup.