Serdar Bitmez, Gülşen Topçu
22 Februari 2018•Update: 23 Februari 2018
Serdar Bitmez, Gülşen Topçu
DOHA
Pemerintah Qatar mengecam pembunuhan rezim Assad terhadap rakyatnya di Ghouta Timur, Damaskus, Suriah.
Melalui sebuah pernyataan tertulis, Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan bahwa serangan rezim di Ghouta Timur telah menghalangi upaya internasional untuk mendatangkan solusi penyelesaian krisis melalui jalur politik.
Dalam pernyataan tersebut, Qatar menekankan bahwa krisis di Suriah hanya akan diselesaikan melalui solusi politik yang dilakukan sesuai keputusan internasional dan prinsip Jenewa-1.
Qatar menyerukan kepada masyarakat internasional agar mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan dan perdamaian dunia.
Qatar juga menghimbau kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan terhadap warga Suriah oleh rezim serta menjadi mediator gencatan senjata di Suriah.
Ghouta Timur terletak di kawasan de-eskalasi yang disetujui oleh Turki, Rusia dan Iran. Di wilayah itu khususnya, aksi serangan dan kekerasan tidak boleh dilakukan.
Namun rezim Bashar al-Assad terus menargetkan wilayah permukiman di kota itu, membunuh setidaknya 539 orang dan melukai lebih dari 2.000 sejak 29 Desember tahun lalu.
Ghouta Timur ditempati sekitar 400.000 penduduk dan berada dibawah cengkeraman rezim selama lima tahun terakhir.
Sejak perang sipil merebak di Suriah pada Maret 2011, PBB melansir lebih dari 250.000 orang tewas. Lembaga Syrian Center for Policy Research mengatakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar, diperkirakan melebihi 470.000 orang.
Perang sipil di Suriah dimulai ketika rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi. Ratusan ribu warga sipil menjadi korban konflik itu yang melibatkan pasukan koalisi menyerang oposisi. Jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi.