Muhammad Abdullah Azzam
25 Mei 2018•Update: 25 Mei 2018
Emre Gürkan Abay
ST. PETERSBURG
Dalam sebuah konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis di kota St. Petersburg, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan rasa kekecewaannya terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang dijadwalkan pada 12 Juni nanti.
Putin mengatakan, padahal pertemuan tersebut merupakan sebuah langkah penting untuk mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea.
Putin telah bertemu dengan Presiden Prancis Macron di kota St Petersburg. Setelah melakukan pertemuan yang berdurasi empat jam, kedua pemimpin negara itu melakukan konferensi pers di hadapan awak media.
Putin menuturkan bahwa dalam pertemuan tersebut mereka membahas perkembangan yang terjadi di Suriah, Ukraina, Iran dan Semenanjung Korea.
"Tugas utama di Suriah, menciptakan sebuah komite konstitusional di Jenewa dan mendorong Damaskus untuk mengirim wakil-wakilnya ke struktur ini. Kami dan Perancis setuju untuk mendukung proses politik dalam penyelesaian krisis di Suriah,” ujar putin.
Dalam pertemuan tersebut, Putin juga membahas langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi krisis di Ukraina. "Dalam pertemuan itu, kami telah menekankan pentingnya untuk menerapkan Perjanjian Minsk dalam menyelesaikan krisis secara kontinu,” ungkap Putin.
Selain itu, Presiden Rusia juga mengkritik sanksi AS terhadap Iran, "Semua pembatasan terhadap negara yang merdeka, hanya dapat dilakukan melalui persetujuan Dewan Keamanan PBB. Semua langkah di luar itu adalah melanggar hukum."
Sedang Presiden Perancis Macron memuji posisi Rusia dalam arena internasional pada konferensi pers itu.
"Kami menyadari posisi penting Rusia di arena internasional, terutama di Timur Tengah,” ungkap Macron.
Selain mengatakan bahwa Perancis menghormati posisi Rusia dalam memberikan solusi terhadap masalah global, Macron juga mengatakan bahwa Rusia juga harus menghormati kepentingan Perancis dan mitra-mitranya.
Macron mengungkapkan, Perancis adalah negara yang berdaulat, mengambil keputusan-keputusan secara independen. “Dialog kami dengan Rusia ini juga merupakan manifesto kemerdekaan,” tambah dia.