Maria Elisa Hospita
05 Maret 2018•Update: 05 Maret 2018
Ismail Ozdemir
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu mendiskusikan soal krisis kemanusiaan di wilayah yang terkepung, Ghouta Timur, Suriah, lewat telepon.
Diskusi tersebut berlangsung di tengah serangan terus-menerus yang dilancarkan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad ke dekat kota Damaskus, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan di wilayah tersebut oleh Rusia dan Dewan Keamanan PBB.
Kedua pemimpin negara sepakat untuk meningkatkan perundingan diplomatik tingkat tinggi untuk memberlakukan gencatan senjata dan membuka jalan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke penduduk sipil.
Dalam diskusi itu, Erdogan juga membahas soal konferensi trilateral pimpinan negara dari Turki, Rusia, dan Iran yang dijadwalkan akan digelar awal April, sekaligus membicarakan rencana pembentukan Komite Konstitusi yang telah disepakati dalam Kongres Sochi untuk melanjutkan proses Jenewa.
Erdogan dan Macron juga sepakat untuk melanjutkan dialog bersama mengenai Suriah.
Mengenai Operasi Ranting Zaitun yang sedang berlangsung, Erdogan mengatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk memberantas ancaman terhadap keamanan nasional Turki, sekaligus memberikan mewujudkan perdamaian di wilayah tersebut.
Pada 20 Januari, Turki melancarkan operasi kontrateror untuk mengusir teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin, barat laut Suriah.
Erdogan juga mengecam serangan teror pada Jumat di pusat kedutaan dan Kedutaan Besar Prancis di Burkina Faso.