Ekip
25 Agustus 2021•Update: 26 Agustus 2021
PARIS
Prancis pada Selasa mengkonfirmasi bahwa mereka menahan seorang warga Afghanistan yang dievakuasi dari Kabul ke Paris namun diduga memiliki hubungan dengan Taliban.
Mengungkapkan "tidak ada celah" dalam pemeriksaan keamanan untuk pengungsi yang masuk, Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengatakan kepada saluran TV FranceInfo bahwa individu tersebut menjauhkan diri dari pengawasan di Paris dan "meninggalkan tempat pemantauan selama beberapa menit" sebelum ditahan.
Dia termasuk di antara lima warga Afghanistan yang dipantau, dikarantina di Paris dan dia ditahan polisi ketika melanggar karantina dengan meninggalkan lokasi di Saint Seine-Denis.
Orang-orang itu dievakuasi dari ibu kota Afghanistan, Kabul, pada 18 Agustus.
Selama wawancara keamanan yang dilakukan di bandara Abu Dhabi, yang digunakan sebagai pangkalan untuk operasi pengangkutan udara dan evakuasi, Direktorat Jenderal Pengawasan Internal (DGSI) mencurigai salah satu dari mereka yang memiliki hubungan dengan Taliban di Afghanistan.
Dia diawasi oleh unit kontrol dan pengawasan administratif atau ketentuan MICAS dari undang-undang anti-terorisme pada saat tiba di Paris.
“Tidak ada salahnya, kewaspadaan kita total. Semua pemeriksaan keamanan dilakukan sebelum mereka tiba di Prancis,” kata direktorat itu.
Warga Afghanistan tersebut banyak membantu Kedutaan Besar Prancis di Kabul dalam operasi evakuasi, menurut konfirmasi dari Mendagri Darmanin dan juru bicara pemerintah Gabriel Attal.
Mendagri juga menekankan perlunya terus menjaga “kewaspadaan.”
Dia mengungkapkan bahwa dari 1.000 warga Afghanistan yang dievakuasi, “hanya ada satu kasus yang bermasalah.”
“Prioritas kami hari ini adalah untuk menyambut warga Afghanistan yang telah membantu Prancis, itu adalah kehormatan negara kami. Haruskah kami meninggalkan orang-orang ini di bandara Kabul dalam bahaya kematian dari Taliban?” ujar Darmanin.