Muhammad Abdullah Azzam
30 Juni 2020•Update: 30 Juni 2020
Mustafa M. M. Haboush, Gülşen Topçu
TRIPOLI
Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk segera mengirim tim penyelidik atas kejahatan yang dilakukan oleh milisi Khalifa Haftar di timur negara itu.
Menurut pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Libya Mohammed Al-Qablawi di akun Twitter-nya, al-Sarraj menyerukan kepada ICC untuk mengirim tim guna menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh milisi Haftar di negaranya.
PM Libya mengatakan jika kasus ini dibiarkan sama saja mendorong milisi Haftar untuk melakukan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejak kejahatan dan genosida seperti di Rwanda dan Bosnia Herzegovina.
Al-Sarraj berjanji akan memberikan dukungan yang diperlukan oleh tim yang akan ditugaskan dalam penyelidikan kasus tersebut.
Menurut pernyataan itu, al-Sarraj menuturkan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh milisi Haftar adalah menyerang warga, bandara, tempat perlindungan bagi para imigran, dan penculikan anggota parlemen Siham Sergiva dari rumahnya di Benghazi.
Milisi Haftar menahan anggota parlemen Sergiva di tempat yang tak diketahui sejak Juli tahun lalu.
Jaksa Agung ICC Fatou Bensouda pada 22 Juni mengatakan bahwa kuburan massal di Libya dapat menjadi bukti "kejahatan perang" atau "kejahatan terhadap kemanusiaan".
Dalam pernyataan tertulis dari Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) pada 24 Juni, PBB telah membentuk Komisi Investigasi Internasional Libya yang berafiliasi dengan Dewan HAM PBB untuk menyelidiki peristiwa-peristiwa di Libya.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019 yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Tentara Libya baru-baru ini membebaskan Tripoli dan Tarhuna dari milisi Haftar, termasuk pangkalan udara Al-Watiya.