Astudestra Ajengrastrı
14 Agustus 2018•Update: 15 Agustus 2018
Murat Birinci
ISTANBUL
Turki sedang menghadapi serangan spekulatif serius tanpa dasar ekonomi apapun, kata Adnan Bali, CEO bank swasta Turki, Isbank, pada Senin.
Saat melihat inflasi Turki, rasio defisit anggaran terhadap GDP, atau rasio utang terhadap GDP, permasalahan nilai tukar ini tidak bisa dijelaskan melalui fundamental ekonomi, ujarnya kepada BloombergHT dan HaberTurk dalam wawancara yang ditayangkan di televisi.
Kewajiban jangka pendek Turki -- jatuh tempo 1 tahun atau kurang -- berjumlah USD180,6 juta, termasuk di antaranya kewajiban pemberi pinjaman sebesar USD102 juta, separuhnya merupakan deposito non-penduduk, dengan rasio refinancing utang sebesar 110 persen, dia menekankan.
"Sementara itu, di bawah mekanisme penyimpanan cadangan, bank-bank Turki memiliki simpanan nyaris USD30 miliar di Bank Sentral, yang menyediakan USD50 miliar batas deposit penukaran mata uang asing kepada peminjam," kata dia.
Bali menambahkan, "Sistem perbankan Turki memiliki likuiditas mata uang asing yang dapat dicairkan sekitar USD50 miliar. Ini menunjukkan tidak adanya permasalahan."
Utang sektor swasta sebesar USD73 miliar, ujar dia, memiliki rasio refinancing lebih dari 130 persen.
Tidak ada defisit devisa dalam sistem perbankan Turki, menurut Bali.
"Langkah-langkah yang diambil Bank Sentral dan pengawas perbankan positif," tukas dia.
Saat ini, Bank Sentral berkata akan menyediakan kebutuhan likuiditas perbankan, di samping langkah-langkah lain.
Pekan lalu ada keseimbangan dalam transaksi mata uang asing di Turki, dia menyoroti, menambahkan bahwa negara ini memiliki pengalaman panjang dengan manajemen krisis.