Şahin Demir
17 Juni 2026•Update: 17 Juni 2026
Militer Iran memperingatkan Israel bahwa serangan yang terus berlanjut di Lebanon selatan dapat memicu "respons militer", seraya menuduh pasukan Israel telah melanggar gencatan senjata sebanyak 84 kali dalam dua hari terakhir.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ISNA pada Selasa, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa pasukan Israel tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan berakhirnya perang.
Komando militer Iran mengatakan pasukan Israel telah melanggar gencatan senjata sebanyak 84 kali dalam dua hari terakhir dan terus melakukan serangan yang menimbulkan korban jiwa di Lebanon.
Militer Iran memperingatkan bahwa jika pasukan Israel tidak menghentikan apa yang disebutnya sebagai "agresi" di Lebanon selatan, mereka harus bersiap menghadapi "respons keras" dari angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah berlanjutnya ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel meskipun telah tercapai kesepahaman antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik militer yang pecah setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di berbagai front regional, khususnya di Lebanon, merupakan salah satu tujuan utama memorandum kesepahaman yang dijadwalkan ditandatangani Teheran dan Washington pada Jumat.
Namun, pejabat Israel mengindikasikan bahwa operasi militer di Lebanon akan tetap berlanjut meskipun kesepakatan tersebut diperkirakan segera berlaku, sehingga memunculkan keraguan terhadap prospek deeskalasi di front Lebanon.
Israel melancarkan ofensif di Lebanon sejak 2 Maret yang menurut data resmi terbaru telah menewaskan dan melukai ribuan orang serta menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.
Israel juga masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, sebagian telah diduduki selama beberapa dekade dan sebagian lainnya sejak perang sebelumnya pada 2023-2024. Dalam ofensif terbaru, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke wilayah Lebanon.