Maria Elisa Hospita
05 April 2019•Update: 05 April 2019
Jihad Nasr, Walid Abdullah, dan Adam Moro
TRIPOLI
Komandan militer Khalifa Haftar pada Kamis melancarkan kampanye militer untuk menduduki Tripoli, di mana kantor pemerintah persatuan Libya yang didukung PBB berada.
Haftar, yang berafiliasi dengan pemerintah oposisi yang berbasis di timur Al-Bayda, mengumumkan kampanye itu lewat akun Facebook-nya.
"Hari ini kami akan melanjutkan perjuangan untuk menjawab seruan orang-orang Tripoli," ujar Haftar.
Kementerian Dalam Negeri di bawah pemerintah persatuan di Tripoli telah memberlakukan masa darurat dan mengumumkan bahwa pasukan Haftar akan bertanggung jawab atas setiap perkembangan buruk yang terjadi.
Sementara itu, kelompok revolusioner di barat Misrata, Libya, sudah menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi pasukan Haftar.
Pada Rabu, Haftar mengerahkan pasukannya ke wilayah barat Libya untuk "mengepung teroris dan basis pertahanan mereka".
Kemudian, pimpinan pemerintah di Tripoli, Fayez al-Sarraj, menginstruksikan pasukan keamanan untuk mempersiapkan diri dan merespons setiap ancaman dan serangan.
PBB khawatirkan mobilisasi militer
"Saya mengkhawatirkan gerakan militer di Libya dan risiko konfrontasi," cuit Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Kamis.
"Mobilisasi militer bukan solusi. Hanya dialog intra-Libya yang bisa menyelesaikan masalah Libya," kata dia mengacu pada krisis politik yang sedang berlangsung di negara itu.
Guterres juga mendesak kamp-kamp politik yang saling bersaing di Libya untuk "tetap tenang dan menahan diri".
Dia pun berkomitmen untuk mendukung proses politik Libya yang mengarah pada perdamaian, stabilitas, demokrasi, dan kemakmuran untuk rakyat Libya".
Libya telah dirundung gejolak sejak tahun 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan tewasnya Presiden Muammar Gaddaffi yang telah berkuasa selama empat dekade.
Sejak itu, perpecahan politik Libya telah menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing: satu di timur Kota Al-Bayda; dan satu lagi di Tripoli.
*Erdogan Cagatay Zontur turut berkontribusi dalam laporan ini