BUCHA, Ukraina
Sepasang suami istri tua yang sudah menikah selama 58 tahun dan tinggal di kota Bucha, Ukraina, tidak meninggalkan kota tersebut dan menyaksikan apa yang terjadi di tengah serangan Rusia.
Grigory Zamogilni (84) dan Anna Zamogilnaya (80), yang dikunjungi oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy setelah pasukan Rusia menarik diri dari kota, berbicara kepada Anadolu Agency.
Zamogilnaya mengatakan mereka tidak memperkirakan situasi menjadi serius ini dan Rusia akan menyatakan perang terhadap Ukraina.
"Mereka (Rusia) memanggil kami 'saudara kecil.' Jadi, bagaimana para tetua bisa memperlakukan adik mereka seperti ini? Mengapa mereka melakukan ini?" dia bertanya.
Pasangan itu tinggal di jalan Vogazlnaya di mana bentrokan hebat terjadi setelah pasukan Rusia memasuki kota pada 27 Februari.
"Ketika saya melihat tank-tank Rusia melewati jalan, anak saya berteriak: 'Bu, tank-tank itu datang'," tutur dia, seraya menambahkan bahwa konvoi tank-tank itu dibom oleh pesawat tempur Ukraina.
Masih belum ada pasokan gas dan listrik di kota, kata Zamogilnaya, mengatakan bahwa mereka memasak makanan mereka di atas batu bata di luar rumah mereka.
'Semuanya terbakar'
Sementara itu, Zamogilni mengatakan saat bentrokan di kota masih berlanjut, segala sesuatu di sekitar rumahnya terbakar, dan bom jatuh di mana-mana.
"Saya melihat sembilan mayat warga sipil di ujung jalan. Ada tiga mayat di jalan dekat kami," imbuh dia.
Mereka mengatakan kini telah merasa aman karena tentara Ukraina telah kembali ke kota dan Zamogilni menambahkan bahwa upaya pembersihan di wilayah tersebut juga telah dimulai.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Moskow menghadapi kritik keras dari komunitas internasional setelah Ukraina menuduh pasukan Rusia melakukan "genosida" dan "kejahatan perang" di Bucha, sebuah kota dekat ibu kota Ukraina, Kyiv.
Rusia telah menolak tuduhan itu sebagai "serangan berita palsu," dengan alasan bahwa gambar-gambar yang telah menarik kemarahan global direkayasa setelah pasukan Rusia mundur dari kota itu.
Perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari, telah menarik kecaman internasional, menyebabkan sanksi keuangan terhadap Moskow, dan mendorong eksodus perusahaan global dari Rusia.