Muhammad Abdullah Azzam
26 Juni 2020•Update: 30 Juni 2020
Nazli Yuzbasioglu
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki pada Rabu mengkritik komentar Presiden Prancis tentang dukungan Turki kepada pemerintah Libya yang diakui secara internasional.
Emmanuel Macron menuding dukungan Turki terhadap pemerintah Libya sebagai "permainan berbahaya."
Menanggapi tudingan itu dalam sebuah siaran radio, Mevlut Cavusoglu mengatakan, justru Prancis lah yang memainkan permainan berbahaya yang melampaui batas di Libya.
Menyoroti Prancis terlibat dalam kekacauan di Libya, menteri luar negeri Turki itu menekankan keberadaan dan kegiatan Prancis di Libya mengkhawatirkan.
"Keseimbangan di Libya telah tercapai berkat upaya kami. Ketika pemerintah yang sah mulai mendominasi, bahkan negara-negara yang sebelumnya berdiri di tengah, secara bertahap mereka mulai memihak kepada pemerintah yang sah," ungkap dia.
Libya dihancurkan oleh perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011.
Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Khalifa Haftar.
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas yang sah negara itu ketika Tripoli memerangi milisi Haftar.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret untuk melawan serangan Haftar di ibu kota Tripoli, dan baru-baru ini membebaskan lokasi-lokasi strategis, termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.