Muhammad Abdullah Azzam
20 November 2019•Update: 21 November 2019
Muhammet Emin Avundukluoglu
ANKARA
Turki seolah didorong secara terpaksa untuk "mencari tempat lain" dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya jika perselisihan terkait jet tempur F-35 masih berlanjut di Amerika Serikat (AS), ungkap presiden Turki pada Selasa.
"Kami mengatakan bahwa jika percekcokan saat ini tentang jet tempur F-35 masih berlanjut, secara terpaksa Turki harus mencari tempat lain untuk memenuhi kebutuhan pertahanannya untuk jangka menengah," ungkap Recep Tayyip Erdogan.
Pada pertemuan fraksi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK), Presiden Erdogan menggarisbawahi bahwa Turki adalah mitra dalam produksi jet tempur F-35.
Erdogan berkata, "Kami bukan pelanggan, kami adalah mitranya."
Pembelian sistem pertahanan udara Rusia yang canggih oleh Turki mendorong pemerintah Trump untuk mengeluarkan Turki dari program produksi bersama generasi kelima jet F-35 pada bulan Juli lalu.
AS berpendapat bahwa sistem tersebut dapat digunakan oleh Rusia secara diam-diam untuk mendapatkan informasi rahasia pada jet tersebut dan tidak sesuai dengan sistem NATO.
Turki membantah isu bahwa S-400 tidak dapat berintegrasi dengan sistem NATO, dan menegaskan sistem pertahanan itu tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi.
Erdogan juga mengecam tudingan terhadap Turki di AS bahwa Ankara memusuhi Kurdi.
"Kami tidak memusuhi saudara Kurdi kami, kami hanya melawan PKK, PYD dan YPG, yang merupakan kelompok teror," kata Erdogan.
Erdogan juga mengkritik dukungan AS terhadap kelompok teror PKK/YPG di Suriah.
"Mereka yang berusaha memberitakan kelompok teror separatis [PKK/YPG] berperang melawan Daesh sekarang berusaha menyembunyikan pembantaian sipil oleh kelompok teror itu," kata Erdogan.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.
Ankara menginginkan agar teroris YPG/PKK menarik diri dari wilayah tersebut sehingga zona aman dapat dibentuk untuk membuka jalan bagi pengembalian 2 juta pengungsi secara aman.
Pada 22 Oktober 2019, Erdogan dan Putin mencapai kesepakatan bahwa teroris PKK/YPG akan mundur 30 kilometer (19 mil) dari perbatasan Turki dengan Suriah utara dalam waktu 150 jam dan pasukan keamanan dari Turki dan Rusia akan melakukan patroli bersama di sana.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.