Astudestra Ajengrastrı
24 Agustus 2018•Update: 24 Agustus 2018
Alex Jensen
SEOUL
Korea Utara pada Jumat menyebut, kecuali Washington siap meninggalkan pendekatan kerasnya untuk proses denuklirisasi, kunjungan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Pyongyang pekan depan akan sia-sia.
"Konyol bila AS berpikir negara kami akan menyerahkan diri, seperti negara-negara lain yang menyerah kepada tekanan sanksi Amerika yang terus-menerus," komentar laman propaganda Korea Utara Uriminzokkiri.
Outlet media yang sama juga mengkritik sanksi-sanksi yang baru dijatuhkan Washington kepada entitas Rusia yang dituduh melakukan bisnis terlarang dengan Korea Utara, menyebutnya sebagai "kesalahan kalkulasi" yang akan terbukti tidak efektif.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini mengutuk sanksi-sanksi yang diarahkan kepada rezimnya sebagai tindakan "kasar".
Pyongyang telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk melakukan tindakan bersama guna membangun kepercayaan dengan AS, menolak pendirian AS yang menuntut Korea Utara harus melakukan denuklirisasi mutlak sebelum mengangkat seluruh sanksi atau memberi keuntungan lain, seperti kesepakatan damai secara formal untuk mengakhiri Perang Korea 1950-53.
Kunjungan Pompeo ke Ibu Kota Korea Utara pekan depan merupakan yang keempat, meski hingga kini dia belum bisa mencapai kemajuan berarti setelah perjanjian umum soal denuklirisasi ditandatangani oleh Trump dan Kim pada Juni lalu.
Kementerian Luar Negeri Pyongyang bahkan menuduh AS melakukan permintaan "seperti gangster" setelah kunjungan terakhir Pompeo awal Juli lalu.
Kali ini, diplomat tinggi Washington tersebut akan ditemani oleh perwakilan khusus untuk Korea Utara yang baru, Stephen Biegun, wakil presiden perusahaan otomotif Ford.
Biegun diangkat pada Kamis untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggal pensiun oleh Joseph Yun pada Februari.
Sementara itu, kantor kepresidenan Seoul menyatakan tetap optimistis akan diplomasi Washington dengan Pyongyang, meskipun ada jurang perbedaan di antara mereka.
"Kami berharap Menteri Pompeo akan membuat kemajuan besar dalam proses denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea saat dia mengunjungi Korea Utara nanti," kata Juru Bicara Kim Eui-kyeom kepada wartawan pada Jumat, menurut Kantor Berita Yonhap.
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in juga dijadwalkan mengunjungi Korea Utara bulan depan, menindaklanjuti KTT antar-Korea yang diadakan di awal tahun ini.