Muhammad Abdullah Azzam
25 Juli 2019•Update: 25 Juli 2019
Gülşen Topçu
TRIPOLI
Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) mengungkapkan pernyataan komandan Khalifa Haftar yang mengklaim bahwa kemenangannya di Tripoli sudah dekat hanya untuk meningkatkan semangat pasukannya.
Menanggapi pernyataan Haftar itu, juru bicara operasi GNA "Burkan al-Ghadab", Mustafa al-Maji mengungkapkan kepada Anadolu Agency bahwa Haftar berusaha menutupi kegagalan mereka dalam menguasai ibu kota.
Al-Maji menjelaskan Haftar ingin meningkatkan semangat pasukannya untuk mengambil alih ibu kota Tripoli meski telah mengalami banyak kekalahan.
Pasukan GNA siap memukul mundur setiap kemungkinan serangan dari pasukan Haftar, ungkap al-Maji.
Jenderal Haftar mengklaim akan meraih kemenangan di Tripoli dalam waktu dekat meski pasukan yang dipimpinnya mengalami banyak kekalahan sejak dia menginstruksikan penyerangan pada 4 April lalu untuk mengambil alih ibu kota Tripoli.
"Kemenangan sudah dekat. Hari kemenangan semua rakyat Libya telah tiba. Tentara dan masyarakat akan mengibarkan bendera kemenangan di Tripoli," ujar Haftar dalam pernaytaannya di pusat komando di kota Benghazi.
Meski telah melebihi 110 hari sejak peluncuran serangan di Tripoli, pasukan Haftar masih gagal meraih kemenangan yang nyata.
Mereka mengalami banyak kekalahan dalam beberapa waktu terakhir, termasuk kekalahan di kota Giryan.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.
GNA menuduh pasukan pimpinan Haftar yang berbasis di Libya Timur berada dibalik serangan tersebut.
Pemimpin pasukan militer di timur Libya Komandan Khalifa Haftar menginstruksikan penyerangan pada 4 April untuk mengambil alih ibu kota Tripoli, sedang pasukan GNA meluncurkan operasi "Burkan al-Ghadab".