Rhany Chairunissa Rufinaldo
11 Desember 2019•Update: 12 Desember 2019
ANKARA
Pembatasan komunikasi di Jammu dan Kashmir yang dikelola India sejak Agustus tidak hanya memengaruhi media lokal, tetapi juga semakin memaksa banyak jurnalis untuk beralih profesi demi mencari nafkah.
Kashmir Life, tabloid yang berbasis di Srinagar, mendokumentasikan kasus lima jurnalis yang mencari cara alternatif untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga mereka.
Media itu mengungkapkan bahwa Muneeb-ul-Islam, jurnalis foto muda terkenal, menjadi buruh bangunan di sebuah konstruksi.
Pada 5 Agustus, India memberlakukan pemadaman komunikasi yang ketat di Jammu dan Kashmir setelah menanggalkan status otonom terbatasnya di bawah konstitusi India.
Pemerintah India membenarkan pembatasan komunikasi itu dengan mengatakan separatis berpotensi menggunakan media sosial untuk memicu agitasi anti-pemerintah.
Namun, para jurnalis di wilayah tersebut paling terpengaruh karena hampir semua media lokal menghentikan pemberitaan karena internet terputus.
Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, Muneeb, 29, menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dunia pada 2015.
“Saya laki-laki tertua di keluarga. Saya tidak punya cara lain untuk memberi mereka makan, karena blokade komunikasi telah mempengaruhi media dengan buruk. Saya harus menopang diri sendiri dan keluarga,” kata Muneeb kepada tabloid itu di sebuah lokasi konstruksi di kota Anantnag, Kashmir Selatan.
Selama 100 hari terakhir, dia telah bekerja di banyak lokasi konstruksi dengan membawa batu bata, mortar dan membantu tukang batu.
Penderitaan ini juga dialami oleh jurnalis foto berusia 35 tahun, Mir Wasim, yang mewakili salah satu surat kabar terkemuka meliput acara-acara di Kashmir Selatan selama enam tahun terakhir.
Wasim saat ini menjual barang-barang sekali pakai di sebuah toko milik pamannya.
“Orang tidak tahu, betapa buruknya internet dan telepon seluler telah mempengaruhi kami. Banyak teman saya yang belum mendapatkan satu sen pun sejak Agustus,” ujar Wasim.
Mengetahui latar belakang Wasim, banyak orang datang ke tokonya bukan untuk membeli barang, tetapi untuk menanyakan situasi politik terkini.
“Saya katakan kepada mereka, saya tidak lagi berhubungan dengan media, saya sekarang hanya pembantu di toko. Tidak lebih dari itu,” tutur Wasim.
Bashir Ahmed, 40, juga seorang jurnalis, membeli mesin cetak untuk membuka usaha.
Dia bekerja untuk surat kabar harian berbahasa Urdu yang berbasis di Delhi selama satu dekade terakhir.
“Saya yang bertanggung jawab atas liputan keseluruhan. Tetapi karena saya tidak dapat mengirim berita. Saya bukan lagi karyawan mereka,” ungkap dia.
Rehmani Sameer, 32, seorang jurnalis foto, juga terlihat berjualan obat di toko milik saudaranya.
Sementara itu, Naveed, reporter muda yang bekerja untuk harian berbahasa Inggris di Srinagar, bekerja sebagai pegawai magang di toko kimia setempat.
“Setelah perusahaan berhenti membayar saya, saya mengucapkan selamat tinggal pada jurnalisme untuk sementara waktu. Saya tidak punya pilihan lain,” ujar dia.
Jurnalis lainnya Tawseef Ahmed, 27, yang mewakili surat kabar berbahasa Hindi yang berbasis di Delhi, terjun ke bisnis makanan dan rempah-rempah.
"Saya pikir itu akan membantu saya setidaknya untuk pengeluaran saya sendiri," ungkap dia kepada tabloid itu.
Kunal Majumdar Kepala Komite India untuk Melindungi Jurnalis yang berpusat di New York mengatakan pembatasan telah memengaruhi semua lapisan masyarakat di wilayah tersebut.
Menurut dia, media, yang bergantung pada komunikasi, paling terpengaruh oleh pembatasan tersebut.