Megiza Soeharto Asmail
16 Juli 2018•Update: 16 Juli 2018
Ayhan Simsek
BERLIN
Turki mendesak Jerman untuk mengambil "langkah konkret" melawan Organisasi Teror Fetullah (FETO) dan anggotanya yang terlibat dalam upaya kudeta yang kalah pada 15 Juli 2016 lalu.
"Harapan kami dari otoritas Jerman adalah untuk menunjukkan dukungan mereka untuk demokrasi dengan tindakan nyata, tidak hanya dengan kata-kata, dan membawa komplotan kudeta ke pengadilan," kata Dubes Ali Kemal Aydin, pada Minggu.
Dia memberi komentar tersebut dalam acara peringatan di kedutaan Turki di Berlin, yang menandai peringatan kedua kudeta yang kalah, yang menyebabkan 251 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka.
Kelompok Fetullah Gulen yang berbasis di AS FETO mengatur upaya kudeta setelah kampanye panjang dan rahasia untuk menyusup ke lembaga-lembaga negara di Turki.
Sekitar 14ribu pengikut Gulen dan anggota FETO tiba di Jerman selama dua tahun terakhir, menurut siaran internasional negara itu, DW.
Duta Besar Aydin memperingatkan bahwa kegiatan anggota FETO di negara itu bukan hanya ancaman bagi Turki, tetapi juga bagi keamanan dan demokrasi Jerman.
"Kami berharap dari teman-teman dan sekutu kami untuk tidak melindungi komplotan kudeta ini, pengkhianat, yang merupakan musuh demokrasi," katanya.
Sementara pihak berwenang Jerman membuat pernyataan kritis dalam beberapa pekan terakhir tentang kelompok itu dan memberi isyarat sikap yang lebih keras, namun mereka belum mengambil langkah-langkah konkret.
Ankara menuntut Berlin untuk mengembalikan tersangka FETO dan komplotan kudeta ke Turki untuk persidangan yang adil dan transparan di rumah.
Puluhan mantan tentara dan pejabat yang terlibat dalam upaya kudeta, beserta pelopor ideologis kelompok FETO disebut-sebut tinggal di Jerman, menurut laporan media.
Adil Oksuz, tersangka utama dalam upaya kudeta 2016, juga menghabiskan beberapa waktu di Jerman setelah melarikan diri dari Turki, menurut beberapa saksi.
Dosen teologi berusia 51 tahun itu menerima dukungan dari jaringan FETO di negara tersebut.
Sejak 1990-an, kelompok bayangan Gulen telah berhasil membangun jaringan besar di Jerman, yang merupakan rumah bagi lebih dari 3 juta imigran Turki.
Kelompok ini juga memiliki lusinan sekolah swasta, bisnis, dan beberapa organisasi media.