Umar Idrıs
04 Februari 2020•Update: 05 Februari 2020
Ayhan Şimşek
BERLIN
Jerman mmengingatkan komunitas internasional terhadap bencana kemanusiaan yang serius di Suriah barat laut akibat serangan baru-baru ini oleh rezim Assad dan sekutunya.
Dalam pidatonya di sebuah konferensi di Berlin yang diselenggarakan oleh angkatan bersenjata Jerman, Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer menyatakan keprihatinan mendalam atas bentrokan dan serangan rezim Assad baru-baru ini yang menargetkan warga sipil di provinsi Idlib di barat laut Suriah.
"Bagaimana kita bisa mencegah bencana kemanusiaan di sana, bagaimana kita bisa menghindari pengusiran orang-orang yang terperangkap di wilayah ini ... pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab dengan memuaskan," katanya, Senin, waktu setempat.
“Saya percaya bahwa ini memerlukan pendekatan internasional. Oleh karena itu kita, sebagai negara-negara E3 [Jerman, Prancis dan Inggris], akan melanjutkan diskusi dengan Presiden [Turki] [Recep Tayyip] Erdogan," kata Kramp-Karrenbauer.
Erdogan bertemu dengan para pemimpin tiga negara utama Eropa, Jerman, Prancis, dan Inggris pada bulan Desember, menjelang pertemuan puncak NATO di London, dan KTT format "E3 + Turki" diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Pernyataan Kramp-Karrenbauer datang setelah eskalasi militer terjadi di Suriah barat laut, imbas serangan terhadap tentara Turki yang dilakukan oleh pasukan rezim Assad, pada Senin, di Idlib.
Setidaknya tentara Turki tewas dan tujuh lainnya cedera dalam penembakan hebat yang dilakukan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad di wilayah tersebut.
Kramp-Karrenbauer dan ketua umum Partai Demokrat Kristen Kanselir Angela Merkel, tahun lalu telah mengusulkan "zona keamanan yang dikendalikan secara internasional" di Suriah utara, tetapi tidak mendapat dukungan dari mitra koalisinya, Partai Sosial Demokrat.
Serangan militer rezim Suriah baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan dan masuknya pengungsi ke Eropa.
Terletak di barat laut Suriah, provinsi Idlib adalah wilayah yang diduduki kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-rezim Assad, sejak pecahnya perang saudara pada 2011.
Namun saat ini tempat itu juga rumah bagi sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dalam beberapa tahun terakhir oleh pasukan rezim di seluruh negara yang lelah perang.
Turki dan Rusia sepakat pada September 2018 untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang dilakukan di daerah itu.
Namun, rezim Assad dan sekutu-sekutunya secara konsisten telah melanggar ketentuan-ketentuan gencatan senjata, meluncurkan serangan yang sering dilakukan di dalam zona itu, menewaskan sedikitnya 1.300 warga sipil sejak perjanjian tersebut.
Hampir 1,5 juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki karena serangan hebat oleh rezim Assad dalam beberapa bulan terakhir.
Saat ini Suriah terjebak dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak pengunjuk rasa damai pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.
Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut pejabat PBB.