Maria Elisa Hospita
31 Juli 2018•Update: 01 Agustus 2018
Alex Jensen
SEOUL
Petinggi militer dari Korea Utara dan Korea Selatan pada Selasa menggelar perundingan di area perbatasan kedua negara yang dijaga ketat, untuk meredakan ketegangan sejalan dengan kesepakatan yang dicapai oleh kedua pemimpin negara saat pertemuan puncak pada bulan April lalu.
Ini menjadi pertemuan tingkat jenderal yang kedua setelah Presiden Korsel Moon Jae-in bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Sama seperti perundingan yang pertama, Mayor Jenderal Korea Selatan Kim Do-gyun kembali menemui Letnan Jenderal Korea Utara An Ik-san.
Kim memulai perundingan itu dengan tekad "musyawarah yang sungguh-sungguh" demi hasil yang lebih baik.
Rekannya, An, mengatakan bahwa "seluruh pihak, baik Utara dan Selatan, menghargai perundingan itu," dan bertekad untuk "mendiskusikan masalah dari hati ke hati".
Kedua belah pihak telah membuat kemajuan dalam beberapa pekan terakhir, dengan menghindari tindakan provokasi, sambil membangun kembali komunikasi perbatasan.
Beberapa isu yang masih perlu dirundingkan di antaranya adalah perlucutan senjata di wilayah perbatasan, pencarian sisa-sisa jasad tentara yang bertempur dalam Perang Korea, dan memastikan denuklirisasi Korea Utara.
Meskipun suasana perundingan di area perbatasan relatif positif, namun media milik Pyongyang masih melayangkan kritik ke Selatan.
Situs propaganda Uriminzokkiri mengecam Seoul karena menyetujui sanksi global untuk denuklirisasi total Utara.
"Bagai air dan api yang tidak bisa bersatu, pemikiran mengenai sanksi dan dialog dapat berjalan beriringan sama sekali tak masuk akal," kata media tersebut.