Muhammad Abdullah Azzam
30 Januari 2021•Update: 31 Januari 2021
Giada Zampano
ROMA
Italia memblokir ekspor senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), kata Kementerian Luar Negeri Italia pada Jumat.
Keputusan itu menyusul peringatan dari para aktivis dan anggota parlemen tentang penggunaan senjata yang melanggar hak asasi manusia di Yaman.
“Ini adalah tindakan yang kami anggap perlu, pesan perdamaian yang jelas datang dari negara kami. Bagi kami, penghormatan terhadap HAM adalah komitmen yang tidak bisa dipatahkan,” kata Menteri Luar Negeri Luigi Di Maio dalam sebuah pernyataan.
Kelompok HAM memuji keputusan itu sebagai "bersejarah," karena akan menentukan blokade lengkap atas penjualan senjata ke negara-negara Teluk.
Jaringan Perdamaian dan Perlucutan Senjata Italia, sebuah koalisi organisasi yang berkampanye menentang penjualan senjata Italia, mengatakan langkah itu akan menghentikan pasokan setidaknya 12.700 bom.
Pada 2018, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte telah berjanji bahwa pemerintahnya ingin mengakhiri penjualan senjata ke Arab Saudi karena keterlibatannya di Yaman dan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
“Kami sangat puas,” kata anggota parlemen dari Partai Demokrat Lia Quartapelle, mengomentari langkah tersebut.
"Jaringan yang menentang penggunaan senjata dan asosiasi Katolik mengalihkan perhatian pada pelanggaran hak asasi manusia di Yaman untuk sementara waktu," sebut Quartapelle.
Awal pekan ini, Presiden AS Joe Biden juga mengeluarkan jeda sementara untuk penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA saat pemerintahannya meninjau ekspor senjata ke negara Teluk.
“Visi bersama ini membantu kami meningkatkan dialog baru dengan AS untuk mengelola hubungan di Mediterania dengan cara yang lebih seimbang,” kata Quartapelle.
Keputusan Italia itu datang tepat ketika mantan Perdana Menteri Matteo Renzi, yang menjerumuskan pemerintah Italia ke dalam krisis politik baru-baru ini dengan menarik Partai Viva Italia dari koalisi yang berkuasa, terbang ke Arab Saudi untuk berbicara di forum investasi.
Rekaman video yang dipublikasikan secara online menunjukkan Renzi memuji "hebat" Mohammed bin Salman, putra mahkota Arab Saudi.
Renzi mengatakan Arab Saudi bisa menjadi tempat untuk Renaisans baru untuk masa depan.
Kunjungan tersebut memicu kontroversi di Italia, karena penjualan yang diblokir merupakan bagian dari total ekspor 20.000 rudal yang disepakati pada 2016 oleh pemerintah kiri-tengah yang dipimpin oleh Renzi.