Muhammad Abdullah Azzam
22 Desember 2020•Update: 22 Desember 2020
Syed Zafar Mehdi
TEHERAN
Iran pada Senin menyebut serangan roket terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Irak sebagai tindakan yang "tidak dapat diterima”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Saeed Khatibzadeh mengatakan dalam konferensi pers bahwa serangan terhadap wilayah diplomatik dan permukiman "tidak dapat diterima", dia menambahkan bahwa waktu dari serangan itu "meragukan".
Khatibzadeh menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang menyalahkan kelompok milisi yang didukung Iran atas serangan itu, dengan mengatakan pernyataan itu tampaknya telah "dipersiapkan sebelumnya".
Rentetan roket menghantam Kedutaan Besar AS di Zona Hijau yang dijaga ketat di Baghdad pada Minggu, menyebabkan cedera di antara personel keamanan Irak dan menyebabkan "kerusakan kecil" pada kompleks kedutaan.
Militer Irak menyalahkan "kelompok terlarang" atas serangan itu, yang terjadi beberapa minggu sebelum peringatan pertama pembunuhan jenderal Iran Qasem Soleimani dalam serangan udara AS di Irak.
Pompeo mengatakan milisi yang didukung Iran "lagi-lagi dengan mencolok dan sembrono menyerang Baghdad", dan "tindakan destabilisasi" harus diakhiri.
Tapi Khatibzadeh mengatakan bahwa Iran "memperingatkan rezim Trump untuk tidak mengobarkan api perang hari ini".
Serangan roket pada Minggu dibelokkan oleh sistem pertahanan C-RAM Kedutaan Besar AS. "Kami menyerukan kepada semua pemimpin politik dan pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah pencegahan serangan semacam itu dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan.
Frekuensi serangan roket terhadap misi diplomatik AS di Zona Hijau Baghdad telah meningkat sejak pembunuhan Soleimani awal tahun ini, yang meningkatkan ketegangan antara musuh lama.
Sementara AS menyalahkan kelompok milisi yang didukung Iran di Irak, terutama kelompok Kataib Hezbollah, Iran menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kendali atas mereka.
Menariknya, Kataib Hezbollah juga mengeluarkan pernyataan, menyebut serangan terbaru terhadap Kedutaan Besar AS adalah “rusak”.
Pada September lalu, pemerintahan Trump mengancam akan menutup kedutaan besarnya di Baghdad jika pemerintah Irak gagal mengambil tindakan terhadap kelompok milisi yang menargetkan pasukan AS.
Saat ini terdapat 5.000 tentara AS yang ditempatkan di Irak, terutama terlibat dalam operasi kontra-terorisme dan melatih pasukan Irak.
Awal bulan ini, AS menarik beberapa staf kedutaannya di Baghdad untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan menjelang peringatan pembunuhan Soleimani pada 3 Januari.
Sementara Iran selalu menolak klaim tanggung jawab atas serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Irak, banyak tokoh militer dan politik Iran telah bersumpah "membalas dendam" atas pembunuhan Soleimani.