Maria Elisa Hospita
16 Juli 2018•Update: 17 Juli 2018
Ayhan Simsek
BERLIN
Kepala badan intelijen domestik Jerman mengakui bahwa masih banyak yang belum terungkap mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok teroris neo-Nazi National Socialist Underground (NSU), meskipun tersangka utamanya telah divonis hukuman penjara seumur hidup pada Rabu.
Saat diwawancarai surat kabar Tagesspiegel pada Sabtu, kepala intelijen Hans-Georg Maassen mengatakan bahwa selain badan intelijennya, polisi, pengadilan, dan komisi parlemen juga telah bekerja keras selama beberapa tahun terakhir untuk mengungkap pembunuhan.
“Sayangnya belum semua pertanyaan terjawab. Masih banyak yang perlu diungkap soal pembunuhan NSU,” kata dia.
Maassen memilih tak berkomentar ketika ditanyai soal kritik tajam dari partai-partai oposisi yang dilayangkan ke badan intelijennya BfV, yang dianggap berupaya menutupi kemungkinan keterlibatan para pejabat atau informannya dalam pembunuhan itu, dengan menghancurkan dokumen-dokumen rahasia tentang NSU.
Selama tahun 2000-2007, NSU telah membunuh 10 orang, termasuk delapan imigran Turki dan satu warga Yunani beserta seorang perwira polisi, namun kasus itu urung terselesaikan.
Setelah proses peradilan selama lima tahun, pengadilan Munich pada pekan lalu akhirnya menjatuhi hukuman penjara seumur hidup kepada Beate Zschaepe, tersangka utama yang masih hidup, dan hukuman yang lebih ringan untuk empat tersangka lain yang terbukti menyokong kelompok teroris.
Maassen menyampaikan harapannya agar sidang NSU bisa memberikan jawaban atas banyak pertanyaan, sekaligus mengakhiri berbagai teori konspirasi.
"Terlepas dari semua upaya, kami masih belum tahu banyak tentang motif mereka, mengapa mereka membunuh orang-orang ini," tambah dia.
"Mengapa para pelaku tidak mengklaim bertanggung jawab atas kejahatan ini? Mengapa video yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan ini baru muncul setelah [rekan Zschaeper] Mundlos dan Bohnhardt bunuh diri?"
Tuduhan rasisme
Warga Jerman pertama kali mengetahui keberadaan NSU dan perannya dalam pembunuhan pada tahun 2011, ketika dua anggotanya - Uwe Mundlos dan Uwe Bohnhardt - bunuh diri setelah gagal merampok bank, dan polisi menemukan senjata api dan literatur ekstrem-kanan di apartemen mereka.
Selama persidangan, Zschaepe, satu-satunya anggota kelompok yang masih hidup, menolak untuk membeberkan soal NSU dan malah menyalahkan dua mendiang rekannya.
Skandal seputar NSU telah memicu kritik terhadap kepolisian dan badan keamanan, bahkan tuduhan rasisme kelembagaan di Jerman.
Hingga tahun 2011, polisi dan badan intelijen Jerman mengesampingkan rasisme sebagai motif pembunuhan, dan sebaliknya memperlakukan keluarga imigran sebagai tersangka dengan menanyai dugaan hubungan mereka dengan kejahatan terorganisir.
Baru-baru ini, sebuah laporan justru menyebutkan bahwa BfV memiliki sejumlah informan yang memiliki kontak dengan tersangka NSU. Para pejabat BfV bersikeras bahwa mereka tidak memiliki informasi awal mengenai kelompok NSU ataupun tersangka pembunuhan.
Pihak berwenang di negara bagian Hesse, Jerman, baru-baru ini memutuskan untuk menyimpan sejumlah dokumen di bawah segel selama 120 tahun, sehingga memicu spekulasi lebih lanjut mengenai hubungan intelijen dengan NSU.