Astudestra Ajengrastrı
14 Februari 2018•Update: 15 Februari 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Rusia masih akan berusaha mencampuri proses pemilihan umum (pemilu) Amerika Serikat (AS) lagi, setelah berhasil memengaruhi pemilu presiden pada 2016, kata biro intelijen AS pada Selasa.
"Tidak diragukan lagi, Rusia merasa usaha mereka di masa lalu sangat sukses dan mereka memandang pemilu paruh semester AS pada 2018 sebagai target operasi Rusia selanjutnya," kata Direktur Intelijen Nasional Dan Coats saat bicara di depan Komite Intelijen Senat mengenai ancaman keamanan nasional tertinggi kepada AS.
Pernyataan Coats ini senada dengan petinggi-petinggi lembaga intelijen AS lain -- termasuk CIA, FBI, Badan Keamanan Nasional dan Badan Intelijen Pertahanan.
Testimoni ini muncul saat komunitas intelijen AS merilis laporan penilaian terhadap ancaman global, yang mengatakan bahwa "Rusia akan meluncurkan operasi siber yang lebih berani dan lebih merusak pada tahun depan, kemungkinan dengan teknologi-teknologi baru" yang menargetkan AS, sekutu-sekutunya, NATO dan Ukraina.
Secara khusus, agensi intelijen ini berujar Rusia akan memperbanyak "operasi pengaruh", yang akan menjadi "ancaman besar bagi kepentingan AS", karena operasi semacam ini tak butuh banyak investasi, rendah risiko, dan mudah disangkal.
"Badan intelijen Rusia akan melanjutkan usaha mereka untuk menyebarkan informasi palsu melalui media yang dikontrol negara Rusia dan membuat akun palsu yang menyebarkan berita-berita online soal AS untuk memantik sentimen dan pandangan politik anti-AS," begitu isi dalam laporan tersebut.
"Kami mengantisipasi Rusia akan terus menggunakan propaganda, sosial media, akun-akun palsu, juru bicara yang terlihat simpatik, dan cara-cara lain untuk mencoba memperburuk keadaan sosial dan politik di AS," tambah laporan itu.
Lembaga-lembaga intelijen AS menyimpulkan pada tahun lalu bahwa Moskow turut campur dalam kampanye pemilu presiden 2016 untuk memenangkan kandidat dari partai Republik, Donald Trump.
Saat ini, sejumlah penyelidikan kongres dan kriminal sedang berlangsung atas tuduhan tersebut, termasuk penyelidikan yang dilakukan oleh Penasihat Khusus Robert Mueller yang berusaha membuktikan jika kampanye Trump berhubungan dengan usaha Rusia itu.
Trump membantah semua tuduhan kolusi dengan Rusia.