Muhammad Nazarudin Latief
14 April 2019•Update: 15 April 2019
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Anggota Kongres Demokrat Ilhan Omar pada Sabtu mengeluarkan serangkaian tweet untuk membalas setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah video serangan pada 11 September 2001 yang diedit dan ditujukan untuk dia.
Pada Jumat, Trump menggungah tweet "Kami tidak akan pernah lupa!” dengan video berdurasi 43 detik yang menampilkan komentar Omar pada pidato di Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) bulan lalu, organisasi advokasi Muslim terbesar di negara itu.
Dalam pidatonya, Omar mengatakan CAIR "didirikan setelah 9/11 karena mereka mengakui bahwa beberapa orang melakukan sesuatu, dan bahwa kita semua mulai kehilangan akses ke kebebasan sipil kita."
CAIR didirikan pada 1994. Kantornya mengatakan Omar salah bicara dan "dimaksudkan untuk merujuk pada fakta bahwa organisasi tersebut bertambah dua kali lipat setelah serangan 11 September."
Namun, kritiknya terfokus pada penggunaan frasa "beberapa orang melakukan sesuatu," menunjukkan bahwa dia meremehkan serangan tersebut.
"Tidak ada satu orang - tidak peduli seberapa korup, tidak kompeten, atau kejam - dapat mengancam cintaku yang tak tergoyahkan untuk Amerika," kata Omar.
"Saya berdiri teguh untuk terus berjuang demi kesempatan yang sama dalam mengejar kebahagiaan bagi semua orang Amerika."
Omar mengatakan dia mencalonkan sebagai anggota Kongres tidak untuk hanya membisu.
"Saya percaya sudah waktunya mengembalikan kejelasan moral dan keberanian Kongres. Untuk melawan dan mempertahankan demokrasi kita," tegasnya.
Bernie Sanders dan Elizabeth Warren, dua orang yang mempersiapkan diri pada pemilihan presiden dari Partai Demokrat, memberi dukungan mereka pada perwakilan dari Minnesota itu.
"Ilhan Omar adalah seorang pemimpin dengan kekuatan dan keberanian. Dia tidak akan mundur ke rasisme dan kebencian Trump, dan begitu juga kita. Serangan menjijikkan dan berbahaya terhadapnya harus diakhiri," kata Sanders.
Warren menuduh Trump menghasut kekerasan terhadap seorang wanita anggota Kongres. "Ini menjijikkan. Sangat memalukan," katanya.
Dalam sebuah pernyataan, Direktur Eksekutif Nasional CAIR, Nihad Awad, mengkritik Trump dan mengatakan presiden AS "membahayakan hidup Omar dengan mengeluarkan kata-katanya di luar konteks dan membangkitkan citra menyakitkan untuk mengeksploitasi tragedi nasional".
Tagar #IstandwithIlhan, pada hari kedua, ada di daftar topik yang sedang hangat di Twitter di AS. Anggota parlemen Muslim itu berterima kasih kepada para pendukungnya.
"Terima kasih telah mendukung saya - melawan pemerintahan yang melarang Muslim dari negara ini - untuk memperjuangkan Amerika yang kita semua pantas dapatkan," tulisnya.
Omar telah menghadapi banyak serangan dan ancaman kematian dalam beberapa pekan terakhir, bersama dengan kritik yang terus menerus sejak dia membuat komentar pedas terhadap Israel, dan sekarang dengan komentar yang dia buat pada serangan 11 September.
Jumat lalu, seorang pria di New York didakwa mengancam akan menyerang dan membunuh Omar, setelah dia dilaporkan mengatakan "dia adalah seorang teroris. Saya akan memasukkan peluru ke dalam tengkoraknya."
Bulan lalu, ancaman bom ke sebuah hotel di mana dia dijadwalkan untuk berbicara, situs berita selebriti Blast melaporkan.
Seorang wanita menelepon hotel mengatakan bahwa Omar adalah bahaya bagi masyarakat dan mengancam akan meledakkan gedung jika mereka melanjutkan acara tersebut.